Apa Penyebab Gigi Tonggos?

Memiliki gigi tonggos sering merusak kepercayaan diri seseorang. Disebut juga dengan istilah malocclusion, gigi tonggos merupakan kondisi gigi yang tidak selaras dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Meskipun membuat beberapa orang tidak percaya diri dengan penampilan sendiri, banyak orang lebih memilih untuk hidup damai dengan kondisi gigi tonggos dan tidak melakukan perawatan apapun untuk memperbaikinya. Contoh yang paling terkenal adalah Freddie Mercury, vokalis legendaris band Queen tersebut memiliki masalah gigi tonggos tanpa merubahnya. Sementara itu, tidak sedikit pula yang memilih untuk memperbaiki gigi tonggos karena alasan kosmetik atau penampilan. Dalam kasus-kasus tertentu, gigi tonggos dapat menyebabkan komplikasi apabila tidak dirawat dan diperbaiki, seperti kerusakan pada gigi, gusi, dan lidah karena menggigit tanpa sengaja. Penyebab, tingkat keparahan, dan gejala gigi tonggos menjadi faktor penting untuk menentukan apakah Anda perlu memperbaiki gigi tonggos atau tidak.

Penyebab gigi tonggos

Gigi tonggos biasanya merupakan kondisi turunan. Bentuk rahang, sama halnya dengan fitur fisik lainnya, dapat diwariskan dari generasi ke generasi lain. Kebiasaan waktu anak-anak, misalnya sering mengisap ibu jari dan menggunakan dot, juga dapat menjadi penyebab lain gigi tonggos.

  • Gigi tonggos akibat mengisap ibu jari

Saat orang tua mengingatkan anak mereka bahwa mengisap ibu jari dapat menyebabkan gigi tonggos, mereka menyatakan hal yang sesungguhnya. Kegiatan mengisap ibu jari disebut dengan kebiasaan mengisap tidak-bergizi (NNSB), yang berarti pergerakan mengisap tidak menyediakan nutrisi apapun apabila dibandingkan dengan menyusu. Apabila kebiasaan tersebut terus berlanjut bahkan saat anak sudah berusia sekitar 3 hingga 4 tahun saat gigi permanen mulai muncul, tekanan yang diciptakan isapan dan ibu jari dapat menyebabkan gigi tumbuh dalam sudut yang tidak normal secara permanen.

  • Gigi tonggos akibat empeng

Mengisap empeng (pacifier) merupakan bentuk lain NNSB. Hal ini dapat menyebabkan gigi tonggos sama halnya dengan mengisap ibu jari. Menerut sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2016 di Jurnal Lembaga Gigi Amerika, penggunaan empeng dihubungkan dengan risiko lebih tinggi untuk menyebabkan malocclusion dibandingkan dengan mengisap jari atau ibu jari.

  • Dorongan lidah

Dorongan lidah terjadi ketika lidah menekan terlalu jauh ke depan. Hal ini sering menyebabkan gigi tonggo. Kondisi ini lebih sering muncul pada anak-anak, namun orang dewasa juga dapat memilikinya. Dorongan lidah dapat terjadi karena beberapa hal, mulai dari amandel benkak yang parah atau kebiasaan menelan yang buruk. Pada orang dewasa, stres juga dapat menyebabkan kondisi ini. Beberapa orang dewasa mendorong lidah mereka saat tidur.

  • Faktor genetik

Beberapa orang terlahir dengan rahang yang tidak rata, misalnya rahang atas atau bawah yang lebih kecil. Gigi tonggos sering merupakan hasil dari faktor genetik bawaan, dan orang tua, saudara kandung, dan sepupu mungkin memiliki penampilan yang mirip.

  • Gigi tanggal atau gigi berlebih

Jarak antar gigi atau gigi yang menumpuk dapat mengubah penjajaran gigi depan Anda dan menyebabkan tampilan gigi tonggos. Gigi ompong dapat menyebabkan gigi yang masih ada berpindah posisi, sehingga memengaruhi posisi gigi depan. Di sisi lain, tidak memiliki cukup ruang untuk gigi tumbuh juga dapat menyebabkan gangguan penjajaran.

Gigi tonggos dapat menyebabkab beberapa gangguan kesehatan, tergantung seberapa parah kondisi tersebut. Gigi tonggos dapat menyebabkan gangguan berbicara, masalah pernapasan, defisiensi mengunyah, kerusakan pada gigi dan gusi, rasa sakit saat menggigit dan mengunyah, dan perubahan penampilan pada wajah.

Read More

4 Tanaman Herbal yang Dapat Cegah Covid-19

Begitu mengerikannya pandemi Covid-19, membuat masyarakat tidak merasa cukup dengan imbauan resmi dari pemerintah atau instansi kesehatan yang berwenang. Demi keselamatan diri, warga terus mencari alternatif solusi untuk menangkal penyebaran virus corona ini. Salah satu yang cukup diyakini keampuhannya adalah tanaman herbal, sebagian mulai menamainya tanaman herbal Covid-19.

Mengingat virus corona masih sangat baru, tentu khasiat tanaman herbal Covid-19 tersebut belum teruji secara pasti khasiatnya. Namun, di kalangan masyarakat beberapa tanaman memang sangat diyakini memberikan manfaat dalam menjaga sistem imun tubuh, agar tidak tertular virus corona.

Upaya pencegahan dengan tanaman herbal Covid-19

Ketakutan yang melanda masyarakat membuat berita atau pesan berantai terkait tanaman herbal yang dapat cegah Covid-19 selalu mendapat perhatian. Di bawah ini, beberapa tanaman yang disebut-sebut dapat menangkal virus corona.

1. Jamu empon-empon

Sejak virus corona menyebar di Indonesia, nama empon-empon menjadi populer. Sebagai warisan tradisional Indonesia,  jamu ini sebetulnya telah lama dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Jamu yang satu ini merupakan kumpulan rempah-rempah, seperti jahe merah, biang kunyit, temulawak, kayu manis, dan sereh. Campuran ini dipercaya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dan saat ini, gabungan rempah tersebut digadang-gadang sebagai tanaman herbal anti Covid-19.

Tak ada salahnya mengonsumsi empon-empon sebagai untuk mencegah tertular virus corona. Hanya perlu diingat, bahwa khasiat empon-empon dalam mengatasi Covid-19 masih membutuhkan penelitian ilmiah.

2. Jeruk beserta kulitnya

Baru-baru, para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Indonesia (UI) melakukan penelitian gabungan. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mencari komponen alami atau herbal yang dapat mengatasi infeksi virus corona.

Dari penelitian tersebut, jeruk beserta kulitnya dikatakan berpotensi untuk mengatasi Covid-19.

Di dalam jeruk terdapat hesperidin, salah satu jenis flavonoid. Hesperidin ini memiliki kemampuan untuk melawan virus dan bakteri. Itulah sebabnya, jeruk dan kulitnya dianggap mampu melawan virus corona.

Hesperidin ini banyak terkandung di dalam kulit jeruk. Cara mengonsumsinya, Anda dapat memarut sedikit kulit jeruk dan mencampurnya ke dalam jus jeruk. Atau membuat infused water jeruk, tanpa mengupas kulitnya.

Meskipun khasiat tanaman herbal satu ini diketahui berdasarkan penelitian, namun penelitian yang dilakukan masih dalam tahap awal. Masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk membuktikan kemampuan suatu tanaman herbal dalam melawan Covid-19.

3. Jambu biji

Tak berhenti pada jeruk dan kulitnya, penelitian gabungan IPB dan UI juga meneliti jambu biji. Layaknya jeruk, jambu biji juga dianggap berpotensi untuk melawan virus corona.

Menurut para peneliti, komponen di dalam jambu biji cukup lengkap untuk melawan infeksi Covid-19, yaitu hesperidin, kuersetin, kaempferol, rhamnetin, dan myricetin. Akan tetapi, untuk diklaim sebagai obat, tanaman ini masih harus melewati prosedur uji klinik. Dan masih butuh waktu yang cukup panjang untuk proses penelitian tersebut.

Namun, tentu tidak ada ruginya jika Anda rutin mengonsumsi jambu biji. Biar bagaimanapun, jambu biji sangat kaya akan vitamin C yang berguna bagi daya tahan tubuh.

4. Daun kelor

Tak mau kalah dari empon-empon, daun kelor juga mendadak naik daun belakangan ini. Pasalnya, penelitian gabungan IPB dan UI juga meneliti terkait daun kelor dan hasilnya disebutkan bahwa senyawa-senyawa yang dapat bermanfaat dalam menangkal virus corona terkandung di dalam daun kelor.

Marak sekali klaim terkait tanaman herbal Covid-19 atau tanaman-tanaman yang dianggap dapat mencegah atau melawan virus corona. Tidak masalah jika Anda menggunakan tanaman herbal tersebut, tapi tetap jangan berlebihan ya! Sebab bahan alami bukan berarti tidak akan memiliki efek samping, tetaplah bijak dan berhati-hati dalam mengonsumsi tanaman herbal.

Read More

Dikait-kaitkan dengan Virus Corona, Vaksin BCG Terus Dimatangkan

Virus Corona menjadi momok menakutkan beberapa bulan belakangan. Keberadannya telah menyebabkan pandemi Covid-19 di lebih dari 200 negara. Tak kurang dari dua juta orang telah terinfeksi, sementara obat atau penangkalnya belum ditemukan hingga kini. Namun, protokol medis tengah mengupayakan itu. Selain terus menggenjot penciptaan vaksin khusus, beberapa vaksin yang sudah ada, seperti vaksin BCG, juga diteliti agar dapat menjadi “obat” sementara penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini.

Sebenarnya, vaksin BCG merupakan penangkal tuberkolosis atau TB. Penyakit yang juga menyerang paru-paru ini disebabkan oleh infeksi bakteri, Mycobacterium tuberculosis. Vaksin BCG merupakan kepanjangan dari Bacille Calmette-Guerin.

Sejak pandemi Covid-19 merebak, vaksin yang telah berusia satu abad ini terus dikait-kaitkan. Penelitian demi penilitian untuk membuktikan hubungan keduanya pun terus dilakukan.

Semua bermula dari sebuah studi yang diunggah di medRxiv, sebuah situs penelitian medis yang tidak dipublikasikan itu menemukan korelasi antara negara-negara yang mengharuskan warga negaranya untuk mendapatkan vaksin BCG menunjukkan lebih sedikit jumlah kasus dan kematian yang dikonfirmasi dari Covid-19.

Gonzalo Otazu seorang Asisten Profesor di Institut Teknologi New York yang juga merupakan penulis dari studi tersebut mulai melakukan analisis usai mengetahui jumlah kasus yang rendah di Jepang meskipun negara itu termasuk yang paling awal melaporkan kasus virus corona di luar Tiongkok.

Kendati tidak melakukan lockdown seperti yang dilakukan oleh negara lain, kasus di Jepang tidak sebanyak Amerika Serikat atau Italia. Otazu, yang mengetahui bahwa sebelumnya telah ada penelitian yang menunjukkan bahwa BCG memberikan perlindungan tidak hanya bakteri TBC tapi juga penyakit menular lain kemudian mencoba mengumpulkan data. Dari situ ia berkeyakinan bahwa vaksin BCG memiliki potensi untuk digunakan meredakan pandemi Covid-19.

  • Vaksin BCG Membuat “Kebal” dari Virus Corona

6 Ilmuwan dari Department of Biomedical Sciences, NYIT College of Osteopathic Medicine, New York Institute of Technology meneliti hubungan imunisasi BCG dan tingkat kematian akibat COVID-19.

Mereka menjumpai fakta bahwa negara tanpa imunisasi BCG memiliki tingkat kematian lebih tinggi daripada yang punya imunisasi BCG. Negara tanpa imunisasi BCG yang diteliti adalah Italia, Amerika Serikat, Belanda, dan Belgia.

Negara dengan imunisasi BCG punya tingkat kematian rata-rata 0,4-0,78 per satu juta penduduk. Negara tanpa imunisasi BCG punya tingkat kematian rata-rata 7,3-16,39 per satu juta penduduk atau lebih tinggi dari negara dengan imunisasi BCG.

Contoh perbandingan langsung adalah Italia tanpa imunisasi BCG punya tingkat kematian lebih tinggi akibat virus Corona dibandingkan Jepang yang punya imunisasi BCG.

Ada temuan lain, yakni negara miskin dengan imunisasi BCG juga punya tingkat kematian yang lebih rendah daripada negara kaya tanpa imunisasi BCG. Tingkat ekonomi dan populasi juga jadi pertimbangan para peneliti karena terkait dengan akses terhadap layanan kesehatan.

Imunisasi BCG menurut tim, mungkin memberikan perlindungan jangka panjang ketika akhirnya ada virus corona. Nah, penelitian para ilmuwan tersebut baru sampai tahap ini. Sekali lagi, temuan awal ini memang harus diuji lebih lanjut oleh para pakar.

  • Diklaim Dapat Menekan Pandemi

Para peneliti itu tetap berharap bahwa BCG bisa menjadi jembatan yang mampu menekan dampak keseluruhan pandemi hingga ada vaksin yang siap digunakan. Otazu dan tim sendiri mencoba mengumpulkan data tentang negara mana saja yang memiliki kebijakan vaksin BCG universal dan kapan mereka melakukan kebijakan itu.

Mereka kemudian membandingkan jumlah kasus dan kematian yang dikonfirmasi dari Covid-19 untuk menemukan korelasi yang kuat. Hasilnya negara-negara maju seperti AS dan Italia yang memiliki jumlah kasus Covid-19 secara besar, hanya menggunakan vaksin BCG sebatas rekomendasi bagi mereka yang mungkin berisiko. Sedangkan Jerman, Spanyol, Perancis, Iran, dan Inggris yang juga memiliki kasus besar, dulunya memiliki kebijakan vaksin BCG tetapi kemudian mengakhirinya bertahun-tahun hingga puluhan tahun yang lalu.

Sementara China, lokasi awal pandemi, memiliki kebijkan vaksin BCG tetapi tidak dipatuhi sebelum 1976. Negara-negara termasuk Jepang dan Korea Selatan yang tampaknya telah berhasil mengendalikan penyakit sejauh ini. Pasalnya mereka memiliki kebijakan vaksin BCG universal.

Read More
Penyakit

Mitos atau Fakta Obat HIV Bisa Sembuhkan Covid-19?

Wabah corona virus atau covid-19 saat ini masih menjadi sumber ketakutan dunia karena penyebarannya yang demikian cepat. Tidak hannya dokter dan petugas yang berdiri di garda depan untuk menolong pasien, para ilmuwan dan peneliti pun bekerja keras mencari cara untuk bisa membasmi obat tersebut dengan menciptakan obat yang mujarab.

Namun memang, sampai saat ini belum ada obat baru yang bisa pasti mematikan serangan corona virus di tubuh manusia. Menyadari hal tersebut, penggunaan obat-obat lama yang diyakini bisa meredakan gejala corona virus pun diuji coba. Salah satunya menggunakan obat HIV.

Penggunaan obat HIV ini yang belakangan dipercaya mampu menyembuhkan pasien yang terserang covid-19. Namun, apakah benar demikian? Berikut cek fakta-fakta dari penggunaan obat tersebut untuk para pasien corona virus, yuk.

Sudah diuji untuk pneumonia

Asumsi bahwa obat HIV dapat mengurangi gejala bahkan mengobati pasien yang terkena covid-19 sejatinya sudah diuji coba. Adalah obat jenis iopinavir dan dan ritonavir, yang diuji coba kepada pasien-pasien corona virus yang mengalami gejala pneumonia. Penggunaan obat HIV tersebut pada pasien yang terkena covid-19 diharapkan bertujuan untuk meringankan gejala masalah pernapasan yang dialami pasien.

China negara pertama

Sama seperti awal mula bewabahnya virus corona baru yang ditemukan di dataran China, penggunaan obat HIV untuk mengurangi gejala dari sakit yang ditimbulkan juga pertama kali digagas oleh China. Negeri Tirai Bambu tersebut menggunakan iopinavir dan ritonavir kepada 199 pasien yang mengalami gejala pneumonia parah akibat corona virus.

Tujuan menghambat kerja enzim

Mengapa obat HIV akhirnya dipilih oleh para ilmuwan dan peneliti untuk menangani pasien-pasien yang terkena virus corona baru? Ini bukan tanpa sebab. Pasalnya, para peneliti melihat ada kesamaan antara gejala pneumonia yang ditimbulkan ole covid-19 dengan yang ditimbulkan oleh HIV. Kedua gejala tersebut memerlukan enzim protease untuk bisa mempercepat gejala. Obat-obat HIV yang diberikan sendiri memiliki sifat menghambat perkembangan enzim protease tersebut. Dengan demikian, diharapkan gejala sakit yang ditimbulkan oleh virus corona dapat diredam.

Mulai digunakan banyak negara

Mula-mula obat HIV untuk penanganan virus corona memang baru diimplimentasikan di dataran China. Namun seiring merebaknya virus ini, penggunaan iopinavir dan ritonavir mulai dilirik oleh negara-negara lain. Jepang menjadi negara yang ikut menggunakan obat HIV untuk penanganan virus corona. Di mana pemberiannya bukan sebatas pada pasien dengan gejala pernapasan, namun kepada pasien yang mengalami gejala demam. Thailand juga melakukan hal yang sama. Uniknya di Thailand, penggunaan obat HIV untuk menurunkan gejala covid-19 digabung dengan pemberian obat flu kepada pasien.

Didapati ada efek

Mengapa akhirnya penggunaan obat HIV banyak digunakan untuk penanganan pasien yang terjangkit covid-19? Soalnya berdasarkan pengalaman dari negara-negara yang memakainya, ada efek dari penggunaan obat-obatan tersebut. Dalam sebuah laporan jurnal JAMA yang terbit pada Maret 2020, disebutkan bahwa 3 dari 5 pasien penderita covid-19 yang diberikan obat HIV bisa pulih setelah diberikan obat HIV yang dikombinasikan dengan obat flu. Hal tersebut memberikan harapan bahwa obat ini bisa menjadi jawaban untuk penanganan wabah corona virus di dunia.

Hasil tidak memuaskan

Hanya saja, covid-19 tetaplah virus baru yang memerlukan penelitian lama agar sebuah obat cocok untuk menangani gejala yang dialami oleh para penderitanya. Meskipun di sebuah jurnal ada efek dari penggunaan obat HIV untuk pasien covid-19, nyatanya dalam skala lebih besar penggunaan iopinavir maupun ritonavir justru mendatangkan efek yang kurang memuaskan. Dalam New England Journal of Medicine disebutkan, sebanyak 94 pasien dari 100 pasien covid-19 yang diberikan obat HIV tidak menunjukkan gejala kesembuhan. Bahkan sebagian dari mereka justru merasakan gejala sakit tambahan berupa diare parah setelah diberikan obat HIV.

***

 Bisa dikatakan sampai saat ini efektif atau tidaknya penggunaan obat HIV untuk pasien covid-19 belum mampu disimpulkan karena beragamnya efek yang ditimbulkan. Karena itu, pencegahan dan penghambatan penularan virus corona masih menjadi satu-satunya jalan terbaik untuk terhindari dari sakit yang ditimbulkan penyakit ini.

Read More

Melihat Bagian Dalam Saluran Pernapasan Lewat Bronkoskopi

Bronkoskopi adalah sebuah tindakan medis yang digunakan dokter untuk melihat bagian dalam paru-paru, termasuk bronkus yang bertindak sebagai jalur masuk utama oksigen ke paru-paru. Saat tindakan medis bronkoskopi berlangsung, dokter akan memasukkan tabung tipis yang dilengkapi dengan lampu senter kecil dan kamera melalui mulut atau hidung. Temuan dokter dari tindakan medis ini dapat digunakan untuk mendiagnosa adanya infeksi, tumor, ataupun penyakit lain yang menyerang paru-paru. Prosedur ini terbilang cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit. Persiapan yang dibutuhkan pun sangat sedikit dan orang-orang yang mendapatkan prosedur ini dapat sembuh dengan cepat. 

Mengapa bronkoskopi perlu dilakukan?

Dokter akan melakukan prosedur bronkoskopi untuk mendeteksi penyebab sulit bernapas dan gangguan atau penyakit paru-paru seperti tumor, infeksi, dan pendarahan. Selama prosedur berlangsung, dokter mungkin akan memasukkan ‘stent’ di saluran udara untuk melakukan biopsy (mengambil sedikit jaringan sebagai sampel untuk diteliti atau diperiksa). Dokter akan merekomendasikan bronkoskopi untuk:

  • Tindakan medis lanjutan setelah proses pemindaian apabila ditemukan indikasi infeksi paru-paru atau tumor
  • Menentukan mengapa seseorang batuk berdarah
  • Menemukan penyabab batuk kronis
  • Mencari penyebab sesak napas
  • Mencari sumbatan atau hambatan di saluran udara
  • Memeriksa terjadinya penolakan paru-paru setelah transplantasi organ
  • Merawat kerusakan apabila seseorang mengisap zat kimia atau gas beracun
  • Dan untuk melakukan tindakan medis biopsy

Selain untuk hal-hal tersebut di atas, dokter juga akan melakukan bronkoskopi untuk merawat beberapa kondisi tertentu seperti membersihkan cairan, sumbatan lendir, atau benda-benda asing di saluran udara/pernapasan, memperbesar saluran udara yang sempit ataupun tersembut, untuk mengobati kanker, dan menguras abses.

Prosedur bronkoskopi

Sebelum prosedur bronkoskopi dilakukan, anestesi lokal akan disemprotkan ke hidung dan tenggorokan (anestesi umum jarang sekali diberikan dan hanya akan dilakukan pada kondisi-kondisi tertentu). Anda juga mungkin akan diberikan sedatif untuk membantu Anda agar tetap tenang. Ini berarti selama prosedur berlangsung, Anda akan tetap sadar. Oksigen juga akan diberikan pada saat bronkoskopi. Anda juga perlu menghindari makan dan minum apapun selama 6 hingga 12 jam sebelum bronkoskopi. Sebelum prosedur, bertanyalah kepada dokter apabila Anda perlu berhenti mengonsumsi aspirin, ibuprofen, warfarin, dan obat pengencer darah lain.

Setelah tubuh Anda terasa relaks, dokter akan memasukkan bronchoscope ke dalam hidung. Bronchoscope akan dimasukkan dari hidung menuju tenggorokan hingga menuju bronkus. Bronkus ini adalah saluran udara di dalam paru-paru Anda. Sikat atau jarum dapat dipasang di bronchoscope untuk mengambil sampel jaringan dari dalam paru-paru. Sampel jaringan tersebut dapat membantu dokter untuk mendiagnosa kondisi paru-paru yang Anda miliki.

Dokter juga mungkin akan melakukan sebuah proses yang disebut dengan pembersihan bronkial (bronchial washing) untuk mengambil sel. Dalam proses ini, dokter akan menyemprotkan larutan garam di atas permukaan aliran udara. Sel-sel yang tercuci di atas permukaan kemudian diambil dan diperiksa di bawah mikroskop. Tergantung dengan kondisi kesehatan Anda, dokter mungkin akan menemukan darah, lendir, infeksi, pembengkakan, penyumbatan, dan tumor. Apabila aliran udara Anda tersumbat, mungkin Anda akan membutuhkan ‘stent’ untuk membukanya. Stent adalah tabung kecil yang dapat ditempatkan di bronkus menggunakan bronchoscope.

Prosedur bronkoskopi relatif cepat, dan tidak memakan waktu lebih dari 30 menit. Karena Anda akan dibius, Anda mungkin perlu beristirahat di rumah sakit selama beberapa jam sebelum Anda lebih sadar dan mati rasa di tenggorokan menghilang. Pernapasan dan tekanan darah Anda akan diawasi selama masa pemulihan tersebut.

Read More