Uncategorized

Hindari Masker di Dagu untuk Perlindungan Lebih Efektif

Pakai masker di dagu sampai ke leher bisa meningkatkan risiko penularan virus corona

Pada akhir tahun 2019, novel coronavirus muncul di Cina. Sejak saat itu, virus ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Novel coronavirus ini disebut dengan nama SARS-CoV-2 dengan penyakitnya yang disebut COVID-19. Meskipun banyak orang dengan COVID-19 menderita gejala yang ringan, tidak sedikit yang menunjukkan tanda-tanda parah seperti kesulitan bernapas, pneumonia, dan kegagalan pernapasan, dengan orang yang lebih tua dan menderita kondisi kesehatan tertentu memiliki risiko paling tinggi. Anda mungkin sudah mendengar bahwa guna mencegah infeksi dan penularan, pemakaian masker sangat direkomendasikan, terutama apabila Anda keluar rumah dan mengunjungi tempat-tempat publik. Pemakaian masker ini tentunya harus tepat, dan Anda perlu menghindari memakai masker di dagu untuk proteksi lebih efektif. Namun, apakah dengan memakai masker dengan baik dan benar saja efektif dalam mencegah penyebaran penyakit COVID-19?

Jenis-jenis masker wajah

Ketika Anda mendengar istilah masker pencegahan COVI-19, sering Anda akan memikirkan tiga jenis masker yaitu masker kain, masker medis, dan masker N95. 

  • Masker kain

Untuk mencegah penyebaran virus dari orang-orang yang tidak menunjukkan tanda-tanda apapun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) saat ini merekomendasikan penggunaan masker kain yang bisa Anda buat sendiri di rumah. Rekomendasi ini terutama sangat dianjurkan untuk diikuti apabila Anda sedang berada di tempat-tempat publik di mana sulit untuk menjaga jarak 2 meter. Rekomendasi ini merupakan tambahan dari menjaga jarak fisik atau “physical distancing” dan melakukan praktik kebersihan yang baik seperti mencuci tangan. Selain itu, rekomendasi penggunaan masker di antaranya adalah memakai masker di ruang publik seperti apotek dan pasar. Jangan memakai masker di dagu atau untuk anak-anak usia 2 tahun ke bawah, orang-orang yang memiliki gangguan pernapasan, orang yang tidak sadarkan diri, dan mereka yang kesulitan melepaskan masker seorang diri. Anda juga dianjurkan untuk memakai masker kain, alih-alih masker N95 atau masker medis, karena keduanya sangat dibutuhkan oleh para tenaga medis. 

  • Masker bedah medis

Masker bedah merupakan masker sekali pakai yang longgar dan dapat menutupi hidung, mulut, dan dagu. Masker ini digunakan untuk melindungi pemakainya dari semprotan, cipratan, dan partikel besar droplet; dan mencegah penularan cairan pengeluaran yang berpotensi menular lewat pernapasan dari pemakai ke orang lain. 

  • Respirator N95

Masker jenis ini lebih ketat dibandingkan dengan masker yang lainnya. Selain dapat melindungi pemakainya dari semprotan, cipratan, dan droplet yang besar, respirator dapat menyaring sekitar 95 persen partikel kecil seperti virus dan bakteri. 

Memakai masker apakah efektif melindungi pemakainya dari COVID-19?

Virus SARS-CoV-2 ditularkan dari satu orang ke orang lain lewat droplet pernapasan. Droplet ini tercipta ketika seseorang yang memiliki virus di tubuhnya menghembuskan napas, berbicara, batuk, ataupun bersin. Anda dapat tertular virus COVID-19 apabila Anda menghirup droplet tersebut. Selain itu, droplet pernapasan yang mengandung virus juga dapat mendarat dan bersarang di permukaan atau benda di sekitar Anda. Saat Anda menyentuh permukaan dan benda yang tercemar SARS-CoV-2 kemudian menyentuh mulut, hidung, dan mata, Anda bisa tertular COVID-19. 

Masker kain menawarkan perlindungan yang paling kecil namun tetap dapat membantu pencegahan penularan SARS-CoV-2 pada orang-orang yang tidak menunjukkan gejala. Masker bedah dan N95 lebih efektif dalam mencegah penyebaran. Namun, apabila pemakaian ketiga masker di dagu dan tidak benar, penularan dan penyebaran penyakit dapat terjadi.

Read More
Hidup Sehat

Pola Hidup yang Mampu Cegah Gigi Kuning

Percaya tidak percaya, warna gigi bisa sangat memengaruhi tingkat kepercayaan diri Anda. Normalnya warna gigi berwarna putih gading. Orang-orang yang memiliki warna gigi demikian cenderug lebih mudah untuk tersenyum sehingga interaksi dengan orang lain menjadi lebih lancar. Sebaliknya jika Anda termasuk yang memiliki gigi kuning, perasaan minder untuk tersenyum dan berinteraksi dengan orang sangat mungkin terjadi sebab menyadari tidak sempurnanya warna gigi.

Apalagi sebenanrya, gigi kuning bukan hanya menandakan adanya perubahan pada gigi Anda. Gigi kuning juga mengindikasikan kondisi kesehatan gigi dan mulut yang cenderung kurang. Umumnya orang-orang yang memiliki gigi kuning juga bermasalah dengan bau mulut.

Untuk itu, menjaga kesehatan gigi dengan tetap menjaga tampilan warnanya menjadi sesuatu yang tidak boleh dipandang remeh. Berbagai tindakan pencegahan gigi kuning pun baiknya mulai Anda lakukan dari sekarang. Nyatanya cara mencegah gigi agar warnanya tidak berubah ke arah kekuningan tidaklah terlalu sulit dan semua upaya pencegahan hanya berhubungan dengan pola hidup Anda sehari-hari.

  1. Kurangi Konsumsi Teh dan Kopi

Mengonsumsi teh atau kopi secara rutin dalam jumlah yang terkontrol tiap harinya memang memiliki beberapa efek kesehatan yang baik. Kedua minuman ini juga dipercaya mampu mereduksi tingkat stres sehingga Anda lebih rileks. Akan tetapi, teh dan kopi pulalah yang membuat Anda rentan mengalami gigi kuning. Cobalah mengurangi konsumsi kedua minuman ini guna bisa mempertahankan keputihan gigi Anda.

  • Rajin Membersihkan Gigi

Anda termasuk orang yang malas atau rajin membersihkan gigi dengan sikat ataupun benang? Jika termasuk orang yang malas, cobalah untuk berbenah dan mulai rajin membersihkan gigi minimal 2 kali sehari. Pasalnya, kerajinan membersihkan gigi sangat memengaruhi warna gigi Anda. Orang yang jarang membersihkan gigi cenderung membiarkan plak menempel di gigi sehingga warna gigi bisa berubah menjadi kuning. Masalah bau mulut sampai kerusakan gigi pun menanti bagi Anda yang malas membersihkan gigi.

  • Berhenti Merokok

Coba perhatikan gigi para perokok aktif? Apakah Anda menyadari warna gigi mereka tampak lebih kuning? Apakah Anda termasuk dalam kelompok tersebut? Merokok memang cenderung membuat masalah gigi, termasuk mengubah warna gigi menjadi kuning karena banyaknya zat kimia yang terkandung dalam tiap batangnya. Berhenti merokok pun menjadi cara tepat untuk menghindari masalah gigi kuning bagi Anda.

  • Gunakan Obat Kumur

Guna membantu menjaga warna gigi Anda tetap seputih gading, cobalah membiasakan diri untuk menggunakan obat kumur. Penggunaan obat kumur bisa membanti menghilangkan plak-plak yang menempel di dinding yang menjadi penyebab gigi kuning. Setidaknya sebagai upaya pencegahan agar tidak terkena gigi kuning, baiknya Anda mengumur obat berbahan antiseptik minimal sekali tiap harinya.

  • Pertimbangkan Pasta Gigi Pemutih

Untuk mencegah gigi kuning, tentunya Anda harus melakukan upaya untuk mempertahankan bahkan meningkatkan keputihan gigi. Salah satu cara yang bisa Anda tempuh adalah menggunakan pasta gigi pemutih. Namun, tidak perlu setiap hari menggunakan pasti gigi jenis ini. Anda cukup menggunakan pasta gigi pemutih untuk menggosok gigi sebanyak 2—3 kali dalam seminggu. Selebihnya, Anda tetap menggunakan pasta gigi biasa yang lebih berfokus pada kesehatan gigi.

  • Hindari Obat-obatan Tertentu

Salah satu penyebab gigi kuning adalah pengonsusmian obat-obatan seperti tetrasiklin dan doksisiklin pada masa kecil. Untuk mencegah warna gigi berubah, Anda bisa menghindari penggunaan obat-obatan tersebut. Penggunaan beberapa suplemen yang rentan memberikan perubahan warna pada gigi pun patut Anda batasi.

*** Tidak sulit bukan mencegah gigi kuning? Dengan menerapkan pola hidup di atas, Anda bisa menjaga warna gigi Anda agar tetap seputih gading.

Read More
Penyakit

Bisakah Anak-Anak Terserang Ulkus Kornea?

Mata terdiri dari begitu banyak organ atau bagian yang memiliki fungsi masing-masing. Satu sama lain “bekerja” sesuai dengan fungsinya dan saling berkaitan sehingga kita bisa melihat. Salah satu bagian penting dari mata adalah kornea. Masalahnya, kornea bisa terserang berbagai gangguan kesehatan, salah satunya ulkus kornea.

Ulkus dapat dimengerti sebagai sebuah luka di permukaan selaput lendir. Karena kornea juga merupakan selaput, ada kemungkinan ia juga terkena ulkus. Dengan begitu dapat dipahami bahwa ulkus kornea adalah luka terbuka pada bagian kornea mata.

Kondisi ini bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak, selama mereka memiliki faktor risiko. Ada banyak kemungkinan di balik terjadinya ulkus kornea. Biasanya dipicu oleh suatu keadaan trauma benda asing.

Anak-anak yang masih belum memiliki kontrol yang matang terhadap dirinya berisiko besar mengalami kejadian-kejadian yang bisa menyebabkan terjadinya luka, seperti tertusuk sesuatu atau kemasukan benda asing lain.

Kondisi akan berkembang menjadi ulkus kornea jika trauma atau luka itu tidak tak tertangani dengan cepat dan tepat. Keterlambatan penanganan akan menyebabkan mikroorganisme masuk ke dalam kornea sehingga terjadi infeksi atau peradangan.

Selain itu, beberapa kondisi kesehatan lain yang terjadi di mata juga dapat berujung pada kondisi ulkus kornea, seperti acanthamoeba keratitis; herpes simplex keratitis, atau keratitis jamur. Biasanya anak-anak atau orang yang mulai mengalami kondisi ulkus kornea akan merasakan gatal di matanya. Selain itu, mata memerah dan berair atau beberapa gejala fisik lain menjadi gejala dari kondisi yang dapat menyebabkan seseorang kehilangan penglihatannya tersebut.

  • Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan pada Kondisi Ulkus Kornea Anak?

Orang tua harus waspada dan sigap ketika anak mulai mengalami beberapa gejala ulkus kornea. Ketika gejala seperti yang telah disebutkan di atas dirasakan oleh anak, pastikan mereka tidak menggaruk atau mengucek bagian matanya karena justru dapat memperparah gejalanya.

Terkadang anak merasa pandangan matanya kabur dan beberapa di antaranya disertai munculnya bintik putih pada bagian kornea. Mata yang terasa sakit juga menjadi tanda yang harus dijadikan peringatan bagi para orang tua. Jika anak sudah mengeluhkan kondisi matanya lebih sensitif terhadap cahaya atau fotofobia, sebaiknya segera cari pertolongan medis.

Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk memastikan ulkus kornea pada anak, seperti pemeriksaan mata menggunakan mikroskop khusus untuk mata. Ketika anak dicurigai mengalami ulkus kornea, pemeriksaan secara biopsi juga umum dilakukan untuk memastikan penyebab ulkus kornea.

Tidak ada salahnya untuk melakukan perawatan terlebih dulu terhadap kondisi mata anak agar ulkus kornea yang dialami tidak semakin bertambah parah. Sebaiknya ajak anak untuk menjaga kebersihan tangan dengan rutin mencuci tangan untuk menghindari infeksi atau peradangan bertambah parah.

Ulkus kornea memang memerlukan penatalaksanaan yang tepat dan cepat untuk mencegah perluasan ulkus, karena kemungkinan kondisi mata penderita ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan, cepat lambatnya mendapat pengobatan, jenis dari mikroorganisme penyebab infeksi, hingga ada tidaknya komplikasi yang timbul.

  • Upaya Pencegahan Ulkus Kornea pada Anak

Seperti kata orang bijak bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati, jauh lebih penting bagi orang tua untuk mengetahui apa-apa saja yang bisa diupayakan agar anak terhindar dari ulkus kornea.

Orang tua hanya perlu mengenali berbagai kemungkinan penyebab dan berusaha menjaga agar anak tak mengalami luka di bagian mata. Selain itu, asupan nutrisi yang baik dan cukup untuk mata, seperti vitamin A, juga perlu diperhatikan.

Anak yang tidak mendapatkan cukup asupan vitamin A jauh lebih rentan terserang ulkus kornea ketimbang mereka yang mendapatkan asupan vitamin A dengan baik. Selain itu, memenuhi kebutuhan nutrisi serta gizi anak juga penting untuk menjaga kesehatan dan kondisi tubuhnya secara keseluruhan.

Read More

Megakolon Kongenital : Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Megakolon kongenital adalah kelainan pada saluran pencernaan usus besar yang menyebabkan seseorang tidak dapat mengeluarkan tinja atau feses. Dalam istilah medis disebut juga dengan hirschsprung disease. Penyakit ini merupakan penyakit bawaan sejak lahir yang cukup langka terjadi. Diperkirakan 1 dari 5000 anak yang baru lahir mengalami megakolon kongenital, dengan frekuensi lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Biasanya, kasus ini berisiko tinggi terjadi pada bayi dengan riwayat penyakit yang sama atau memiliki penyakit Down Syndrome.

Apa penyebab megakolon kongenital?

Diduga, penyakit megakolon kongenital yang terjadi pada anak ini disebabkan oleh kelainan pada sel-sel dinding saluran pencernaan bagian bawah, yaitu kolon (usus besar) dan rektum. Gangguan ini mengakibatkan saraf parasimpatis yang menggerakkan otot-otot pada saluran tersebut menjadi tidak aktif (aganglion). Akibatnya, gerak peristaltik usus jadi hilang.

Jika gerak peristaltik usus tidak ada, maka pembentukan dan pergerakan feses di usus hingga ke rektum jadi terlambat. Lama-kelamaan, terjadi pelebaran atau distensi kolon yang dapat menyebabkan kerusakan usus akut maupun kronis. Hal ini bergantung juga dengan seberapa panjang usus yang mengalami aganglion. Oleh sebab itu, jika seorang bayi yang baru lahir mengalami megakolon kongenital, maka feses akan menumpuk di usus besar dan bayi tidak bisa BAB.

Bagaimana cara mengetahui jika seorang anak mengalami megakolon kongenital?

Umumnya, 90% bayi yang lahir dengan normal akan mengeluarkan mekonium, yaitu tinja pertama setelah lahir dalam waktu 24 jam pertama. Sebaliknya, lebih dari 90% bayi yang mengalami megakolon kongenital akan mengeluarkan fesesnya dalam waktu lebih dari 24 jam. Biasanya, disertai dengan gejala di bawah ini.

  1. Muntah hijau.
  2. Distensi abdomen, yaitu kondisi dimana perut membesar akibat usus yang mengalami pelebaran karena penumpukan feses.
  3. Enterokolitis, yaitu peradangan pada usus.

Jika kasus ini terjadi pada anak atau pasien yang sudah dewasa, maka gejala yang dirasakan seperti :

  1. Susah makan.
  2. Distensi abdomen kronis.
  3. Konstipasi.
  4. Fecal impaction, yaitu kondisi tinja yang mengeras di rektum atau usus bawah akibat sembelit.
  5. Malnutrisi.
  6. Gagal tumbuh kembang.

Kasus megakolon kongenital yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menyebabkan kematian sekitar 80% penderitanya. Penyebab kematian terbanyak adalah karena enterokolitis. Apabila kasus ditangani dengan penanganan yang cepat dan tepat, maka angka kematian dapat ditekan seminimal mungkin.

Pengobatan megakolon kongenital.

Jika seorang bayi atau anak didiagnosa megakolon kongenital, maka tindakan yang dilakukan pertama kali adalah operasi atau pembedahan. Pada sebagian besar kasus, operasi dilakukan saat bayi berusia satu bulan. Umumnya, pembedahan dilakukan dengan cara rectal washing dan kolostomi. Menurut Madjawati (2009), pembedahan dilakukan dengan 2 teknik, yaitu :

  1. Mengangkat bagian usus yang mengalami aganglion dan membuat kolostomi pada bagian usus distal yang masih normal. Kolostomi adalah lubang yang dibuat sebagai jalur keluarnya feses sementara hingga kondisi usus distal tersebut membaik.
  2. Setelah beberapa minggu atau bulan kemudian, lubang atau kolostomi ditutup. Bagian usus distal yang normal disambung lagi dengan usus bagian proksimal. Dengan ini, feses diharapkan bisa keluar melalui anus.  

Apakah ada komplikasi pasca operasi dilakukan?

Hasil penelitian Orvar Swenson di Boston, dari 82 pasien megakolon kongenital yang dioperasi, hanya 4 diantaranya yang mengalami gangguan kemih dan 2 orang mengalami infeksi ringan pasca operasi. Beberapa anak yang berusia kurang dari 3 tahun mengalami diare. Hal ini bisa diatasi dengan pemberian larutan garam setiap hari selama 4-5 hari untuk mengatasi diare. Selain itu, gejala muntah dan distensi perut mereda, serta bayi bisa bergerak secara normal. Komplikasi-komplikasi tersebut belum tentu akan terjadi juga pada penderita dewasa.

Catatan

Jika Anda memiliki tanda atau gejala seperti kasus di atas, maka segera lakukan pemeriksaan langsung ke dokter. Diskusi dan konsultasikan dengan dokter cara terbaik dan efektif untuk menanganinya. Selalu lindungi kesehatan Anda dan keluarga, ya!

Read More
Penyakit

Ciri-ciri dan Cara Mengobati Dwarfisme

Merupakan kelainan fisik yang membuat seseorang khususnya pada anak-anak yang memiliki tubuh sangat pendek atau kerdil, dinamakan dengan dwarfisme. Banyak orang salah mengartikan kondisi kelainan ini dengan stunting, namun perlu diluruskan bahwa kedua kondisi ini sangat jelas tidak sama alias benar-benar berbeda.

Stunting merupakan kondisi di mana tinggi badan anak yang pendek karena masalah kekurangan gizi, sebaliknya kelainan fisik karena genetik atau kondisi medis tertentu membuat seseorang menjadi memiliki tubuh pendek atau kerdil. Seseorang dikatakan mengalami kondisi ini jika memiliki tinggi badan antara 120 hingga 140 cm ketika sudah berusia dewasa.

Dwarfisme Pada Anak

Kondisi ini dibagi menjadi dua jenis, pertama tidak proporsional dan yang kedua proporsional, kedua jenis kondisi tersebut yang dialami anak tentu memiliki beberapa perbedaan. Jenis tidak proporsional yakni terdapat beberapa bagian tubuh seseorang yang kecil, sementara yang lain berukuran rata-rata hingga di atas rata dan menyebabkan perkembangan tulang terhambat.

Sementara untuk jenis yang proporsional adalah ketika semua bagian tubuh kecil untuk tingkat yang sama dan tampak proporsional seperti perawakan tubuh rata-rata. Apabila kondisi ini muncul ketika masih anak-anak, maka kondisi ini akan membatasi tumbuh kembang anak secara keseluruhan dan tentunya ini merupakan kondisi yang tidak bagus.

Ciri-ciri Dwarfisme

Pada awalnya dokter akan mencurigai anchodroplasia sebelum kelahiran, tepat sejak USG prenatal di akhir kehamilan. Hasil USG nantinya akan menunjukkan bahwa lengan dan kaki bayi lebih pendek dari ukuran rata-rata, sementara ukuran kepala menjadi lebih besar. Sayangnya, tidak semua ibu melakukan USG prenatal di akhir kehamilan.

Dampak negatif yang muncul adalah banyak anak dengan achondroplasia tidak terdiagnosis hingga setelah kelahiran. Namun, dokter juga bisa melakukan diagnosis beberapa jenis kondisi kerdil di awal kehamilan, walaupun tidak semuanya. Hal ini dikarenakan terdapat diagnosa setelah beberapa bulan atau di tahun pertama setelah mengetahui pertumbuhan anak terlambat, berikut ciri-cirinya.

  • Bentuk kaki bengkok.
  • Tulang hidung tidak rata.
  • Rahang bayi terlihat menonjol.
  • Tulang belakang bawah melengkung ke arah depan.
  • Kepala besar dengan dahi lebar sebagai tanda achondroplasia.

Jika usia bayi sudah cukup besar, maka akan mengalami keterlambatan kemampuan motorik dan imunitas yang mudah menurun. Untuk mengetahui kondisi ini pada bayi harus membutuhkan kepekaan, jika bayi memiliki kecenderungan kondisi jenis proporsional maka akan lebih mudah dideteksi karena terkait dengan masalah genetik.

Cara Pengobatan

Pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengurangi hal-hal buruk pada tubuh serta berbagai komplikasi kondisi ini terdapat beberapa alternatif. Pada umumnya, pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengatasi permasalahan yang muncul, berikut di antaranya beberapa pengobatan tersebut.

  • Terapi Hormon

Terapi hormon bisa dilakukan dengan memberikan suntikan hormon sintetis, hal ini dilakukan setiap hari pada anak-anak yang memiliki kekurangan hormon pertumbuhan agar semakin tercukupi. Bahkan bisa membantu anak mencapai tinggi badan maksimal, selain hormon sintetis diberikan pula suntikan estrogen.

  • Operasi

Tindakan medis ini dilakukan sebagai salah satu cara pertumbuhan tulang yang optimal, melalui operasi ini pemilik dwarfisme dapat memperbaiki bentuk tulang belakang dan mengurangi tekanan saraf yang terjadi. Tindakan ini setidaknya bisa memaksimalkan fungsi tubuh serta kemampuan selama melakukan aktivitas.

Operasi juga dilakukan agar tidak memicu munculnya berbagai komplikasi yang dialami pasien, seperti terjadinya peradangan sendi, saraf tulang belakang terjepit, gigi tumbuh secara bertumpuk, mengalami gangguan pernapasan saat tidur hingga gangguan nyeri yang sewaktu-waktu bisa terjadi dan kambuh secara tak terduga.

Read More
Parenting

Inilah Kewajiban Orang Tua Menurut Islam

Sebenarnya, tidak hanya kewajiban anak kepada orang tua yang perlu untuk dipenuhi. Namun, kewajiban orang tua kepada anak juga harus dipenuhi. Apalagi dalam Islam, anak sesungguhnya merupakan titipan dan berhak mendapatkan hak dari orang tuanya. Maka dari itu, Bukan hanya anak saja yang harus memenuhi kewajibannya pada orang tua. Melainkan kewajiban orang tua pada anak pun harus dipenuhi.

Berikut ini 7 kewajiban orang tua kepada anak menurut Islam yang perlu diketahui:

1. Memberi Nama yang Baik

Moms, kewajiban orang tua kepada anaknya dalam Islam yang pertama adalah memberikan nama yang baik.

“Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian.” (HR. Abu Dawud)

2. Memberi Anak Air Susu Ibu (ASI)

Kewajiban oang tua pada anak yang harus dipenuhi ialah memberinya Air Susu Ibu (ASI). Hal ini pun sudah tertulis dalam kitab suci Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 233.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuannya.” (QS. Al-Baqarah:233)

Tidak diragukan lagi kalau ASI adalah makanan pertama bayi yang besar manfaatnya. Ibnu Sina, seorang dokter kenamaan Islam menegaskan kalau penyusuan alami memiliki manfaat.

“Seorang bayi sebisa mungkin harus menyusu dari air susu ibunya. Sebab, mengulum puting susu ibu terkandung manfaat yang sangat besar dalam menolak segala sesuatu yang rentan membahayakan dirinya.”

Kewajiban oang tua pada anak yang harus dipenuhi ialah memberinya Air Susu Ibu (ASI). Hal ini pun sudah tertulis dalam kitab suci Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 233.

3. Mendidik Anak dengan Baik

ewajiban orang tua yang ketiga adalah mendidik anak-anaknya dengan baik. Pendidikan untuk anak inilah hal yang paling penting dan paling utama harus diberikan pada anak.

Seorang anak harus mendapatkan pendidikan yang baik dan sama dengan anak-anak lainnya. Termasuk pendidikan mengenai agama dan akhlak-akhlak yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari kakek Ayub Bin Musa Al Quraisy dari Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada satu pemberian yang lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran yang baik.”

4. Megajarkan Al-Quran

Mengajarkan anak meneladani Al-Quran adalah kewajiban orang tua. Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ali radiyallahu ‘anhu, bersabda:

“Ajarkanlah tiga hal kepada anak-anak kalian, yakni mencintai nabi kalian, mencintai keluarganya, dan membaca Al-Quran. Sebab para pengusung Al-Quran berada di bawah naungan arsy Allah pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naunganNya, bersama para nabi dan orang-orang pilihanNya. Dan, kedua orang tua yang memperhatikan pengajaran Al Qur’an kepada anak-anak mereka, keduanya mendapatkan pahala yang besar.”

5. Bersikap Adil terhadap Anak-anaknya

Berusaha memberikan keadilan pada anak-anak penting untuk dilakukan. Misalnya dalam memberi kasih sayang yang sama terhadap masing-masing anak. Kasih sayang orang tua merupakan hak setiap anak dan harus diberikan secara adil.

Tidak hanya kasih sayang, memberikan sesuatu pada anak pun harus adil. Tidak boleh ada yang lebih banyak ataupun lebih sedikit.

6. Memberi Nafkah dan Makanan yang Halal

Kewajiban lain yang harus dipenuhi ialah memberi nafkan dan makanan yang halal. Seperti sabda Rasulullah SAW kepada Sa’ad Bin Abi Waqhas, “Baguskanlah makananmu, niscaya doamu akan dikabulkan.”

Berusaha memberikan keadilan pada anak-anak penting untuk dilakukan. Misalnya dalam memberi kasih sayang yang sama terhadap masing-masing anak. Kasih sayang orang tua merupakan hak setiap anak dan harus diberikan secara adil.

7. Menikahkan dengan Calon Suami/Istri yang Baik

Sebagaimana firman-Nya, “Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya,” (QS. An-Nur: 32)

Itulah 7 kewajiban orang tua pada anak dalam Islam. Semoga kita dapat melaksanakan kewajiban ini dengan baik dan dorong anak untuk hidup berkeluarga agar ia terbebas dari kemaksiatan. Amiin.

Read More
Kesehatan Mental

Siapkan Psikologis sebagai Kiat Sukses Hadapi New Normal

Setelah melewati masa-masa yang berat beberapa bulan belakangan lantaran pandemi covid-19, setiap sendi kehidupan di bumi ini mulai berjuang untuk bangkit. Semua bersiap untuk memulai kembali kehidupan yang sempat “terhenti”. Namun, apa yang terjadi itu memaksa kita untuk menjalani apa yang disebut dengan “new normal”.

New normal merupakan istilah untuk menggambarkan sebuah keadaan baru yang akan kita jalani ke depan. Mau tidak mau, suka tidak suka, semuanya harus kita terima sebagai bagian dari kehidupan kita.

Mungkin, perubahan tersebut akan membuat kita gagap, bingung, dan sebagainya. Termasuk juga mempengaruhi kondisi mental dan psikologis kita. Akan tetapi, kita harus tetap melangkah, apa pun yang terjadi. Oleh karena itu, tanamkan beberapa hal di bawah ini agar kita bisa sukses memasuki dan hidup di sebuah era yang disebut new normal:

  • Tetap Menjaga dan Menjalin Komunikasi 

Rasa kecewa dan frustasi adalah hal yang tak bisa dihindari di tengah situasi saat ini. Oleh karena itu, disarankan agar kita tetap terhubung dengan orang lain. Pasalnya, seseorang bisa dengan mudah terbawa emosi negatif, lantaran kerap memiliki perasaan terisolasi dan kesepian. 

Cobalah untuk mengomunikasikan apa yang kita rasakan kepada teman atau keluarga. Cara ini akan membantu kita agar tidak lagi merasa sendiri. Hal yang sama juga berlaku dalam dunia kerja. Agar pekerjaan tetap lancar, kita juga harus memiliki komunikasi yang lancar dengan atasan dan rekan kerja kita. Dengan cara ini, kita bisa mendiskusikan dan mencari solusi dari hambatan-hambatan pekerjaan yang kita alami di “kehidupan yang baru” ini.

  • Segera Berdamai dengan Keadaan 

Salah satu bagian terpenting agar sukses beradaptasi dengan new normal adalah menerima kenyataan bahwa hal ini juga baru bagi semua orang. Meski ada rasa kecewa atau frustasi yang kita rasakan, disarankan agar kita tetap berusaha untuk melewati proses adaptasi ini dengan mempertahankan rutinitas harian. 

Kenyataannya, memang ada banyak hal di luar kendali dan tidak biasa, tetapi kita tetap harus bisa mempertahankan rutinitas harian, seperti mengerjakan tugas-tugas yang bisa kita selesaikan untuk tetap mendapat dan menjaga pencapaian nyata.

  • Kelola dan Pertahankan Keseimbangan Emosi 

Memang sulit menyeimbangkan emosi ketika kita harus beradaptasi dengan situasi baru. Namun, keseimbangan emosi sangat diperlukan agar kita tetap tenang di tengah situasi yang penuh dengan ketidakpastian. 

Selain itu, keseimbangan emosi juga turut menentukan kesehatan fisik kita. Untuk mencapai keseimbangan emosi, yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi perasaan kita tanpa melakukan penghakiman. 

Perasaan sedih, kecewa, atau bahkan marah sekalipun normal terjadi. Namun, yang perlu kita lakukan adalah menerima perasaan itu tanpa ada penyesalan atau menyalahkan diri sendiri.

  • Fokus Tatap dan Jalani Hari Ini 

Situasi pandemi berpotensi membuat kita selalu membayangkan hal buruk akan masa depan dan menyesali apa yang seharusnya kita lakukan di masa lalu. Kondisi itu membuat manusia sangat sulit untuk fokus pada masa kini karena banyak orang memiliki spekulasi dan ketakutan tentang apa yang akan terjadi di hari esok. 

Menurutnya, terlalu memikirkan apa yang belum terjadi hanya akan membuat seseorang sulit beradaptasi dengan keadaan dan tidak bisa fokus pada hal-hal yang harusnya bisa dikerjakan pada saat ini. 

Tanamkan di dalam diri bahwa biarkan segala sesuatunya terjadi. Hal yang perlu kita lakukan dalah fokus pada masa kini dan mengerjakan apa yang harus kita selesaikan agar mendapatkan hasil yang baik pada masa mendatang

Beberapa “manipulasi” psikologis di atas bisa Anda coba agar tetap waras di tengah kondisi dan situasi yang tak menentu ini. Menghadapi sesuatu yang baru atau tidak pernah terjadi sebelumnya memanglah berat. Namun, bukan berarti kenyataan itu dapat dijadikan alasan untuk takut menghadapi new normal yang mungkin tengah dan akan kita jalani nantinya.

Read More