Hidup Sehat

Maladaptive Daydreaming, Gangguan Mental atau Bukan?

Memimpikan sesuatu adalah hal yang normal. Akan tetapi, sebagian orang mungkin memikirkan mimpi mereka terlalu sering hingga jadi sering melamun. Kondisi inilah yang dinamakan dengan maladaptive daydreaming.

ma

Apa itu maladaptive daydreaming?

Daydreaming atau melamun bisa memberi sensasi rasa senang dalam pikiran ketika memikirkan suatu kegiatan atau aktivitas tertentu. Hal ini bisa terjadi karena Anda memikirkan atau membayangkan sesuatu yang Anda harapkan.

Sebenarnya, melamun adalah bagian dari kreativitas dan proses berimajinasi. Hanya saja, jika dilakukan secara berlebihan, dapat mempengaruhi kemampuan otak Anda untuk bekerja dengan normal pada realita.

Maladaptive daydreaming bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya pengalaman traumatis atau pelecehan yang pernah dirasakan. Melamun menjadi strategi mengatasi pengalaman buruk tersebut untuk melarikan diri dari kenyataan.

Secara tidak langsung, kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis. Akan tetapi, kondisi ini tidak dikategorikan sebagai gangguan kesehatan mental. Namun, menurut para ahli, kondisi ini dapat berdampak buruk pada kehidupan sehari-hari dan harus ditangani secara serius.

Gejala maladaptive daydreaming

Tanda utama dari kondisi ini adalah seringnya melamun secara berlebihan. Akan tetapi, ada beberapa gejala lainnya yang dialami oleh penderita maladaptive daydreaming, seperti:

  • Melakukan gerakan berulang saat melamun, seperti berjalan mondar-mandir, berputar, menggoyangkan sesuatu di tangan, dan lain sebagainya.
  • Melamun terjadi langsung setelah membaca buku, menonton film, bermain video game, dan lain sebagainya.
  • Isi lamunan mendetail dan rumit, alurnya hampir serupa dengan apa yang ditonton di TV atau dibaca pada novel.
  • Bisa tertawa, menangis, dan berbicara secara tiba-tiba.
  • Melamun sudah sangat sering dilakukan sejak usia anak-anak sampai dewasa.
  • Melamun sambil berbaring di tempat tidur selama berjam-jam.
  • Kesulitan tidur di malam hari.
  • Kesulitan menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.
  • Melamun dalam jangka waktu yang lama, bahkan hingga berjam-jam.

Sebagian dari gejala kondisi ini hampir serupa dengan beberapa gangguan mental. Akan tetapi, maladaptive daydreaming bukanlah gangguan kesehatan mental.

Saat penderita tertawa atau menangis secara tiba-tiba, mereka melakukannya secara sadar.  Mereka mampu membedakan dengan jelas mana yang merupakan realita dan mana khayalan sendiri.

Bahaya kondisi maladaptive daydreaming

Sebenarnya sulit untuk mendeteksi bahaya dari kondisi ini karena kondisi ini berbeda dengan gangguan kesehatan mental. Belum ada penelitian yang bisa dengan jelas menggambarkan komplikasi dari penderita kondisi ini.

Akan tetapi, sebagian penderita maladaptive daydreaming juga menderita gangguan kesehatan mental, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), depresi, dan Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Meski begitu tidak ada penelitian yang bisa menjelaskan korelasi antara ketiga gangguan kesehatan mental tersebut dengan maladaptive daydreaming.

Walaupun kondisi ini tidak termasuk sebagai gangguan kesehatan mental, gejalanya dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Sulit untuk mengatasi hal ini, terlebih jika penderita telah menderitanya dalam waktu yang cukup lama.

Mengatasi kondisi maladaptive daydreaming

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mengatasi melamun berlebihan. Pertama-tama, Anda bisa mencoba untuk mengatasi rasa lelah sehari-hari dengan lebih banyak tidur. Tidurlah dalam durasi yang cukup, yaitu minimal 7 jam setiap malamnya.

Selain itu, cobalah untuk menghindari faktor pemicu. Jika Anda lebih mudah melamun setelah membaca novel, hindarilah membaca novel selama beberapa waktu. Begitu pula jika faktor pemicu melamun Anda adalah film, tayangan televisi, atau video game.

Dengan menghindari faktor pemicu dan beristirahat yang cukup, Anda bisa mengurangi intensitas maladaptive daydreaming. Kondisi ini bisa membaik secara perlahan-lahan jika Anda sanggup melawan faktor pemicu tersebut.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*