Megakolon Kongenital : Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Megakolon kongenital adalah kelainan pada saluran pencernaan usus besar yang menyebabkan seseorang tidak dapat mengeluarkan tinja atau feses. Dalam istilah medis disebut juga dengan hirschsprung disease. Penyakit ini merupakan penyakit bawaan sejak lahir yang cukup langka terjadi. Diperkirakan 1 dari 5000 anak yang baru lahir mengalami megakolon kongenital, dengan frekuensi lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Biasanya, kasus ini berisiko tinggi terjadi pada bayi dengan riwayat penyakit yang sama atau memiliki penyakit Down Syndrome.

Apa penyebab megakolon kongenital?

Diduga, penyakit megakolon kongenital yang terjadi pada anak ini disebabkan oleh kelainan pada sel-sel dinding saluran pencernaan bagian bawah, yaitu kolon (usus besar) dan rektum. Gangguan ini mengakibatkan saraf parasimpatis yang menggerakkan otot-otot pada saluran tersebut menjadi tidak aktif (aganglion). Akibatnya, gerak peristaltik usus jadi hilang.

Jika gerak peristaltik usus tidak ada, maka pembentukan dan pergerakan feses di usus hingga ke rektum jadi terlambat. Lama-kelamaan, terjadi pelebaran atau distensi kolon yang dapat menyebabkan kerusakan usus akut maupun kronis. Hal ini bergantung juga dengan seberapa panjang usus yang mengalami aganglion. Oleh sebab itu, jika seorang bayi yang baru lahir mengalami megakolon kongenital, maka feses akan menumpuk di usus besar dan bayi tidak bisa BAB.

Bagaimana cara mengetahui jika seorang anak mengalami megakolon kongenital?

Umumnya, 90% bayi yang lahir dengan normal akan mengeluarkan mekonium, yaitu tinja pertama setelah lahir dalam waktu 24 jam pertama. Sebaliknya, lebih dari 90% bayi yang mengalami megakolon kongenital akan mengeluarkan fesesnya dalam waktu lebih dari 24 jam. Biasanya, disertai dengan gejala di bawah ini.

  1. Muntah hijau.
  2. Distensi abdomen, yaitu kondisi dimana perut membesar akibat usus yang mengalami pelebaran karena penumpukan feses.
  3. Enterokolitis, yaitu peradangan pada usus.

Jika kasus ini terjadi pada anak atau pasien yang sudah dewasa, maka gejala yang dirasakan seperti :

  1. Susah makan.
  2. Distensi abdomen kronis.
  3. Konstipasi.
  4. Fecal impaction, yaitu kondisi tinja yang mengeras di rektum atau usus bawah akibat sembelit.
  5. Malnutrisi.
  6. Gagal tumbuh kembang.

Kasus megakolon kongenital yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menyebabkan kematian sekitar 80% penderitanya. Penyebab kematian terbanyak adalah karena enterokolitis. Apabila kasus ditangani dengan penanganan yang cepat dan tepat, maka angka kematian dapat ditekan seminimal mungkin.

Pengobatan megakolon kongenital.

Jika seorang bayi atau anak didiagnosa megakolon kongenital, maka tindakan yang dilakukan pertama kali adalah operasi atau pembedahan. Pada sebagian besar kasus, operasi dilakukan saat bayi berusia satu bulan. Umumnya, pembedahan dilakukan dengan cara rectal washing dan kolostomi. Menurut Madjawati (2009), pembedahan dilakukan dengan 2 teknik, yaitu :

  1. Mengangkat bagian usus yang mengalami aganglion dan membuat kolostomi pada bagian usus distal yang masih normal. Kolostomi adalah lubang yang dibuat sebagai jalur keluarnya feses sementara hingga kondisi usus distal tersebut membaik.
  2. Setelah beberapa minggu atau bulan kemudian, lubang atau kolostomi ditutup. Bagian usus distal yang normal disambung lagi dengan usus bagian proksimal. Dengan ini, feses diharapkan bisa keluar melalui anus.  

Apakah ada komplikasi pasca operasi dilakukan?

Hasil penelitian Orvar Swenson di Boston, dari 82 pasien megakolon kongenital yang dioperasi, hanya 4 diantaranya yang mengalami gangguan kemih dan 2 orang mengalami infeksi ringan pasca operasi. Beberapa anak yang berusia kurang dari 3 tahun mengalami diare. Hal ini bisa diatasi dengan pemberian larutan garam setiap hari selama 4-5 hari untuk mengatasi diare. Selain itu, gejala muntah dan distensi perut mereda, serta bayi bisa bergerak secara normal. Komplikasi-komplikasi tersebut belum tentu akan terjadi juga pada penderita dewasa.

Catatan

Jika Anda memiliki tanda atau gejala seperti kasus di atas, maka segera lakukan pemeriksaan langsung ke dokter. Diskusi dan konsultasikan dengan dokter cara terbaik dan efektif untuk menanganinya. Selalu lindungi kesehatan Anda dan keluarga, ya!

Tags: 

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*