Penyakit

Bisakah Anak-Anak Terserang Ulkus Kornea?

Mata terdiri dari begitu banyak organ atau bagian yang memiliki fungsi masing-masing. Satu sama lain “bekerja” sesuai dengan fungsinya dan saling berkaitan sehingga kita bisa melihat. Salah satu bagian penting dari mata adalah kornea. Masalahnya, kornea bisa terserang berbagai gangguan kesehatan, salah satunya ulkus kornea.

Ulkus dapat dimengerti sebagai sebuah luka di permukaan selaput lendir. Karena kornea juga merupakan selaput, ada kemungkinan ia juga terkena ulkus. Dengan begitu dapat dipahami bahwa ulkus kornea adalah luka terbuka pada bagian kornea mata.

Kondisi ini bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak, selama mereka memiliki faktor risiko. Ada banyak kemungkinan di balik terjadinya ulkus kornea. Biasanya dipicu oleh suatu keadaan trauma benda asing.

Anak-anak yang masih belum memiliki kontrol yang matang terhadap dirinya berisiko besar mengalami kejadian-kejadian yang bisa menyebabkan terjadinya luka, seperti tertusuk sesuatu atau kemasukan benda asing lain.

Kondisi akan berkembang menjadi ulkus kornea jika trauma atau luka itu tidak tak tertangani dengan cepat dan tepat. Keterlambatan penanganan akan menyebabkan mikroorganisme masuk ke dalam kornea sehingga terjadi infeksi atau peradangan.

Selain itu, beberapa kondisi kesehatan lain yang terjadi di mata juga dapat berujung pada kondisi ulkus kornea, seperti acanthamoeba keratitis; herpes simplex keratitis, atau keratitis jamur. Biasanya anak-anak atau orang yang mulai mengalami kondisi ulkus kornea akan merasakan gatal di matanya. Selain itu, mata memerah dan berair atau beberapa gejala fisik lain menjadi gejala dari kondisi yang dapat menyebabkan seseorang kehilangan penglihatannya tersebut.

  • Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan pada Kondisi Ulkus Kornea Anak?

Orang tua harus waspada dan sigap ketika anak mulai mengalami beberapa gejala ulkus kornea. Ketika gejala seperti yang telah disebutkan di atas dirasakan oleh anak, pastikan mereka tidak menggaruk atau mengucek bagian matanya karena justru dapat memperparah gejalanya.

Terkadang anak merasa pandangan matanya kabur dan beberapa di antaranya disertai munculnya bintik putih pada bagian kornea. Mata yang terasa sakit juga menjadi tanda yang harus dijadikan peringatan bagi para orang tua. Jika anak sudah mengeluhkan kondisi matanya lebih sensitif terhadap cahaya atau fotofobia, sebaiknya segera cari pertolongan medis.

Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk memastikan ulkus kornea pada anak, seperti pemeriksaan mata menggunakan mikroskop khusus untuk mata. Ketika anak dicurigai mengalami ulkus kornea, pemeriksaan secara biopsi juga umum dilakukan untuk memastikan penyebab ulkus kornea.

Tidak ada salahnya untuk melakukan perawatan terlebih dulu terhadap kondisi mata anak agar ulkus kornea yang dialami tidak semakin bertambah parah. Sebaiknya ajak anak untuk menjaga kebersihan tangan dengan rutin mencuci tangan untuk menghindari infeksi atau peradangan bertambah parah.

Ulkus kornea memang memerlukan penatalaksanaan yang tepat dan cepat untuk mencegah perluasan ulkus, karena kemungkinan kondisi mata penderita ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan, cepat lambatnya mendapat pengobatan, jenis dari mikroorganisme penyebab infeksi, hingga ada tidaknya komplikasi yang timbul.

  • Upaya Pencegahan Ulkus Kornea pada Anak

Seperti kata orang bijak bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati, jauh lebih penting bagi orang tua untuk mengetahui apa-apa saja yang bisa diupayakan agar anak terhindar dari ulkus kornea.

Orang tua hanya perlu mengenali berbagai kemungkinan penyebab dan berusaha menjaga agar anak tak mengalami luka di bagian mata. Selain itu, asupan nutrisi yang baik dan cukup untuk mata, seperti vitamin A, juga perlu diperhatikan.

Anak yang tidak mendapatkan cukup asupan vitamin A jauh lebih rentan terserang ulkus kornea ketimbang mereka yang mendapatkan asupan vitamin A dengan baik. Selain itu, memenuhi kebutuhan nutrisi serta gizi anak juga penting untuk menjaga kesehatan dan kondisi tubuhnya secara keseluruhan.

Read More

Megakolon Kongenital : Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Megakolon kongenital adalah kelainan pada saluran pencernaan usus besar yang menyebabkan seseorang tidak dapat mengeluarkan tinja atau feses. Dalam istilah medis disebut juga dengan hirschsprung disease. Penyakit ini merupakan penyakit bawaan sejak lahir yang cukup langka terjadi. Diperkirakan 1 dari 5000 anak yang baru lahir mengalami megakolon kongenital, dengan frekuensi lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Biasanya, kasus ini berisiko tinggi terjadi pada bayi dengan riwayat penyakit yang sama atau memiliki penyakit Down Syndrome.

Apa penyebab megakolon kongenital?

Diduga, penyakit megakolon kongenital yang terjadi pada anak ini disebabkan oleh kelainan pada sel-sel dinding saluran pencernaan bagian bawah, yaitu kolon (usus besar) dan rektum. Gangguan ini mengakibatkan saraf parasimpatis yang menggerakkan otot-otot pada saluran tersebut menjadi tidak aktif (aganglion). Akibatnya, gerak peristaltik usus jadi hilang.

Jika gerak peristaltik usus tidak ada, maka pembentukan dan pergerakan feses di usus hingga ke rektum jadi terlambat. Lama-kelamaan, terjadi pelebaran atau distensi kolon yang dapat menyebabkan kerusakan usus akut maupun kronis. Hal ini bergantung juga dengan seberapa panjang usus yang mengalami aganglion. Oleh sebab itu, jika seorang bayi yang baru lahir mengalami megakolon kongenital, maka feses akan menumpuk di usus besar dan bayi tidak bisa BAB.

Bagaimana cara mengetahui jika seorang anak mengalami megakolon kongenital?

Umumnya, 90% bayi yang lahir dengan normal akan mengeluarkan mekonium, yaitu tinja pertama setelah lahir dalam waktu 24 jam pertama. Sebaliknya, lebih dari 90% bayi yang mengalami megakolon kongenital akan mengeluarkan fesesnya dalam waktu lebih dari 24 jam. Biasanya, disertai dengan gejala di bawah ini.

  1. Muntah hijau.
  2. Distensi abdomen, yaitu kondisi dimana perut membesar akibat usus yang mengalami pelebaran karena penumpukan feses.
  3. Enterokolitis, yaitu peradangan pada usus.

Jika kasus ini terjadi pada anak atau pasien yang sudah dewasa, maka gejala yang dirasakan seperti :

  1. Susah makan.
  2. Distensi abdomen kronis.
  3. Konstipasi.
  4. Fecal impaction, yaitu kondisi tinja yang mengeras di rektum atau usus bawah akibat sembelit.
  5. Malnutrisi.
  6. Gagal tumbuh kembang.

Kasus megakolon kongenital yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menyebabkan kematian sekitar 80% penderitanya. Penyebab kematian terbanyak adalah karena enterokolitis. Apabila kasus ditangani dengan penanganan yang cepat dan tepat, maka angka kematian dapat ditekan seminimal mungkin.

Pengobatan megakolon kongenital.

Jika seorang bayi atau anak didiagnosa megakolon kongenital, maka tindakan yang dilakukan pertama kali adalah operasi atau pembedahan. Pada sebagian besar kasus, operasi dilakukan saat bayi berusia satu bulan. Umumnya, pembedahan dilakukan dengan cara rectal washing dan kolostomi. Menurut Madjawati (2009), pembedahan dilakukan dengan 2 teknik, yaitu :

  1. Mengangkat bagian usus yang mengalami aganglion dan membuat kolostomi pada bagian usus distal yang masih normal. Kolostomi adalah lubang yang dibuat sebagai jalur keluarnya feses sementara hingga kondisi usus distal tersebut membaik.
  2. Setelah beberapa minggu atau bulan kemudian, lubang atau kolostomi ditutup. Bagian usus distal yang normal disambung lagi dengan usus bagian proksimal. Dengan ini, feses diharapkan bisa keluar melalui anus.  

Apakah ada komplikasi pasca operasi dilakukan?

Hasil penelitian Orvar Swenson di Boston, dari 82 pasien megakolon kongenital yang dioperasi, hanya 4 diantaranya yang mengalami gangguan kemih dan 2 orang mengalami infeksi ringan pasca operasi. Beberapa anak yang berusia kurang dari 3 tahun mengalami diare. Hal ini bisa diatasi dengan pemberian larutan garam setiap hari selama 4-5 hari untuk mengatasi diare. Selain itu, gejala muntah dan distensi perut mereda, serta bayi bisa bergerak secara normal. Komplikasi-komplikasi tersebut belum tentu akan terjadi juga pada penderita dewasa.

Catatan

Jika Anda memiliki tanda atau gejala seperti kasus di atas, maka segera lakukan pemeriksaan langsung ke dokter. Diskusi dan konsultasikan dengan dokter cara terbaik dan efektif untuk menanganinya. Selalu lindungi kesehatan Anda dan keluarga, ya!

Read More
Penyakit

Ciri-ciri dan Cara Mengobati Dwarfisme

Merupakan kelainan fisik yang membuat seseorang khususnya pada anak-anak yang memiliki tubuh sangat pendek atau kerdil, dinamakan dengan dwarfisme. Banyak orang salah mengartikan kondisi kelainan ini dengan stunting, namun perlu diluruskan bahwa kedua kondisi ini sangat jelas tidak sama alias benar-benar berbeda.

Stunting merupakan kondisi di mana tinggi badan anak yang pendek karena masalah kekurangan gizi, sebaliknya kelainan fisik karena genetik atau kondisi medis tertentu membuat seseorang menjadi memiliki tubuh pendek atau kerdil. Seseorang dikatakan mengalami kondisi ini jika memiliki tinggi badan antara 120 hingga 140 cm ketika sudah berusia dewasa.

Dwarfisme Pada Anak

Kondisi ini dibagi menjadi dua jenis, pertama tidak proporsional dan yang kedua proporsional, kedua jenis kondisi tersebut yang dialami anak tentu memiliki beberapa perbedaan. Jenis tidak proporsional yakni terdapat beberapa bagian tubuh seseorang yang kecil, sementara yang lain berukuran rata-rata hingga di atas rata dan menyebabkan perkembangan tulang terhambat.

Sementara untuk jenis yang proporsional adalah ketika semua bagian tubuh kecil untuk tingkat yang sama dan tampak proporsional seperti perawakan tubuh rata-rata. Apabila kondisi ini muncul ketika masih anak-anak, maka kondisi ini akan membatasi tumbuh kembang anak secara keseluruhan dan tentunya ini merupakan kondisi yang tidak bagus.

Ciri-ciri Dwarfisme

Pada awalnya dokter akan mencurigai anchodroplasia sebelum kelahiran, tepat sejak USG prenatal di akhir kehamilan. Hasil USG nantinya akan menunjukkan bahwa lengan dan kaki bayi lebih pendek dari ukuran rata-rata, sementara ukuran kepala menjadi lebih besar. Sayangnya, tidak semua ibu melakukan USG prenatal di akhir kehamilan.

Dampak negatif yang muncul adalah banyak anak dengan achondroplasia tidak terdiagnosis hingga setelah kelahiran. Namun, dokter juga bisa melakukan diagnosis beberapa jenis kondisi kerdil di awal kehamilan, walaupun tidak semuanya. Hal ini dikarenakan terdapat diagnosa setelah beberapa bulan atau di tahun pertama setelah mengetahui pertumbuhan anak terlambat, berikut ciri-cirinya.

  • Bentuk kaki bengkok.
  • Tulang hidung tidak rata.
  • Rahang bayi terlihat menonjol.
  • Tulang belakang bawah melengkung ke arah depan.
  • Kepala besar dengan dahi lebar sebagai tanda achondroplasia.

Jika usia bayi sudah cukup besar, maka akan mengalami keterlambatan kemampuan motorik dan imunitas yang mudah menurun. Untuk mengetahui kondisi ini pada bayi harus membutuhkan kepekaan, jika bayi memiliki kecenderungan kondisi jenis proporsional maka akan lebih mudah dideteksi karena terkait dengan masalah genetik.

Cara Pengobatan

Pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengurangi hal-hal buruk pada tubuh serta berbagai komplikasi kondisi ini terdapat beberapa alternatif. Pada umumnya, pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengatasi permasalahan yang muncul, berikut di antaranya beberapa pengobatan tersebut.

  • Terapi Hormon

Terapi hormon bisa dilakukan dengan memberikan suntikan hormon sintetis, hal ini dilakukan setiap hari pada anak-anak yang memiliki kekurangan hormon pertumbuhan agar semakin tercukupi. Bahkan bisa membantu anak mencapai tinggi badan maksimal, selain hormon sintetis diberikan pula suntikan estrogen.

  • Operasi

Tindakan medis ini dilakukan sebagai salah satu cara pertumbuhan tulang yang optimal, melalui operasi ini pemilik dwarfisme dapat memperbaiki bentuk tulang belakang dan mengurangi tekanan saraf yang terjadi. Tindakan ini setidaknya bisa memaksimalkan fungsi tubuh serta kemampuan selama melakukan aktivitas.

Operasi juga dilakukan agar tidak memicu munculnya berbagai komplikasi yang dialami pasien, seperti terjadinya peradangan sendi, saraf tulang belakang terjepit, gigi tumbuh secara bertumpuk, mengalami gangguan pernapasan saat tidur hingga gangguan nyeri yang sewaktu-waktu bisa terjadi dan kambuh secara tak terduga.

Read More
Penyakit

Ciri-ciri Bayi Mengalami Mata Buta

Bayi yang mengalami gangguan penglihatan bisa mengalami dampak buruk yang berpengaruh pada perkembangan anak secara keseluruhan. Maka dari itu, hal ini sangat penting diketahui oleh para orang tua guna mendeteksi sedini mungkin untuk bisa mencegah bayi mengalami mata buta di kemudian hari atau selama masa perkembangan anak.

Berbagai macam jenis cacat lahir pada bayi dan penyebabnya berbeda-beda, termasuk pada salah satunya gangguan penglihatan. Padahal kemampuan melihat dengan baik dan jelas yang dirasakan bayi memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung proses tumbuh kembang anak, untuk itu memahami beberapa ciri-ciri dari gangguan penglihatan pada bayi diperlukan.

Ciri-ciri Bayi Buta

Kemampuan bayi untuk melihat bergantung pada kerja sama antara indra penglihatan mata dan otak, mata terdiri dari berbagai bagian yang berbeda seperti kornea, lensa, iris hingga retina. Semua bagian mata ini saling bekerja sama agar gambar, cahaya atau objek bisa ditangkap atau dilihat dengan jelas dan fokus oleh mata.

Saraf yang terdapat pada mata memiliki tugas untuk mengirim objek, gambar hingga cahaya yang dilihat menuju ke otak. Dalam momen ini otak bekerja dengan melakukan proses dan mengenali apa yang ditangkap oleh mata. Proses ini terbilang sulit, tetapi kerja sama yang terjalin dan membuat seseorang bisa melihat terjadi secara singkat.

Apabila bayi memiliki gangguan pada penglihatan, secara otomatis kemampuan ini tidak bisa berkembang dengan baik. Pada umumnya, para orang tua bisa memerhatikan bayi mereka mengalami masalah penglihatan berdasar ciri-ciri yang muncul, berikut ini beberapa ciri-ciri bayi mengalami gangguan penglihatan.

  • Kondisi sensitivitas yang tinggi terhadap cahaya.
  • Fokus mata yang buruk disertai sering menggosok mata.
  • Mata memerah, pupil mata terlihat berwarna putih bukan hitam.
  • Mengalami kesulitan dalam melihat atau mengamati objek.
  • Pergerakan mata terlihat tidak normal, kondisi ini diketahui setelah bayi berusia enam bulan.
  • Ketika bayi sudah berusia lebih dari satu tahun, cahaya maupun gangguan lain tidak menarik perhatian.
  • Bayi mengalami kondisi di mana kedua mata tidak pernah membuka.

Selain beberapa ciri di atas, kondisi gangguan penglihatan mata bayi bisa dilihat dengan kedua bola mata bayi atau balita dan anak-anak prasekolah terlihat tidak sejajar. Kondisi ini bahkan menjadi ciri-ciri yang kerap diabaikan, padahal ketika bayi berada dalam keadaan ini sangat dianjurkan segera memeriksakan ke dokter guna mengetahui kemungkinan buruk.

Namun, jika masalah penglihatan yang dialami bayi maupun anak-anak berada dalam kondisi mata malas atau disebut dengan amblyopia, secara umum atau biasanya keadaan ini tidak menunjukkan ciri-ciri buta mata. Para orang tua disarankan untuk segera memeriksakan kondisi bayi dengan gangguan penglihatan ini ke dokter spesialis mata atau ophtalmologist.

Tujuan pemeriksaan ini selain mendeteksi masalah pada perkembangan penglihatan bayi sedini mungkin, tetapi juga untuk memeriksa gangguan penglihatan bayi dan anak-anak agar mendapatkan penanganan yang tepat. Pada kebanyakan kasus, dokter akan melakukan pemeriksaan mengenai masalah penglihatan sejak bayi baru lahir.

Hal tersebut dilakukan agar dokter mendapatkan kondisi yang memperlihatkan ciri-ciri bayi mengalami gangguan penglihatan. Setelah enam bulan pasca pemeriksaan pertama, dokter juga akan melihat struktur mata bayi dan memberikan penilaian terkait bayi bisa memerhatikan pergerakan benda berwarna terang di hadapannya.

Peran orang tua sangat vital untuk mengatasi gangguan atau masalah penglihatan yang dialami bayi atau anak mereka. Semakin cepat mengetahui kondisi tersebut, maka akan semakin baik pula penanganan yang akan dilakukan oleh para dokter.

Read More
Penyakit

Penjelasan Foto Terapi untuk Bayi Kuning

Terapi cahaya atau fototerapi juga bisa menjadi penanganan untuk bayi kuning

Terapi sinar atau biasa disebut dengan foto terapi merupakan salah satu penanganan paling umum digunakan saat bayi yang lahir berwarna kuning karena kadar bilirubin yang tinggi di dalam tubuh si bayi. Perawatan ini memanfaatkan sinar ultraviolet buatan untuk mengurangi kadar bilirubin bayi.

Bayi kuning atau dalam bahasa medis dikenal dengan jaundice adalah keadaan di mana bayi lahir terlihat kuning pada kulit dan bagian putih mata (sklera). Biasanya, kuning pada bayi dapat muncul sekitar hari ketiga setelah kelahiran dan menghilang pada saat bayi berusia dua minggu. Bayi lahir prematur umumnya lebih rentan mengalami kondisi ini. Perawatan paling efektif dan umum digunakan untuk menangani bayi kuning adalah fototerapi dan transfusi darah.

Penyebab bayi kuning

Bayi kuning kebanyakan disebabkan karena organ bayi belum bisa menyingkirkan kelebihan bilirubin dengan baik. Bilirubin adalah pigmen kuning yang ada dalam darah dan tinja pada setiap orang.

Bayi kuning tidak bisa dianggap sepele, karena jika tidak segera diobati, kemungkinan bisa mengancam jiwa bayi kamu. Beberapa hal yang menjadi penyebab bayi kuning, yakni adanya masalah pada fungsi hati bayi, bayi yang diberi ASI maupun yang tidak mendapat cukup ASI, gangguan sel darah, adanya ketidakcocokkan jenis darah antara ibu dan bayi, serta adanya infeksi.

Perubahan warna kulit bisa menjadi lebih sulit dikenali jika bayi kamu memiliki warna kulit yang lebih gelap. Namun, warna kuning akan lebih jelas pada beberapa bagian pada tubuh bayi, misalnya di bagian putih mata, di dalam mulut, juga di telapak tangan dan telapak kaki bayi kamu.

Tanda-tanda lainnya meliputi, bayi yang kerap mengantuk, sering menangis, lemas, urine berwarna kuning gelap padahal seharusnya bening hingga kuning muda, dan tinja yang berwarna pucat (seharusnya berwarna kekuningan).

Prosedur foto terapi untuk bayi kuning

Umumnya, bayi yang kuning atau jaundice memerlukan perawatan fototerapi menggunakan bantuan sinar ultraviolet. Fototerapi ini tergolong perawatan yang aman dan tidak merusak kulit bayi.

Adapun dua jenis fototerapi, di antaranya:

  • Fototerapi konvensional

Yakni perawatan fototerapi di mana bayi kamu diletakkan di bawah lampu halogen atau lampu neon ultraviolet, agar sinar dapat diserap tubuh melalui kulit. Mata bayi ditutup untuk melindungi lapisan saraf mata dari paparan sinar ultraviolet.

  • Fototerapi serat optik

Yakni perawatan fototerapi di mana terdapat kabel serat optik pada selimut yang digunakan bayi untuk berbaring. Paparan sinar disalurkan melalui kabel tersebut ke bagian punggung bayi. Perawatan ini umumnya lebih sering digunakan jika bayi kamu lahir secara prematur.

Kedua jenis fototerapi tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni membuat kulit bayi mendapat paparan sinar sebanyak mungkin. Kedua jenis fototerapi ini biasanya akan dihentikan selama 30 menit setiap 3-4 jam sekali, sehingga kamu bisa menyusui bayi, mengganti popoknya, atau sekadar memeluknya.

Sebelum melakukan fototerapi, ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan. Di antaranya:

  • Seluruh pakaian bayi perlu ditanggalkan, agar kulit bayi terkena sinar ultraviolet buatan sebanyak mungkin.
  • Mata bayi harus tertutup guna melindungi lapisan saraf mata (retina) dari paparan sinar.
  • Kadar bilirubin diperiksa paling sedikit sekali dalam sehari. Setidaknya setiap 4-6 jam setelah proses fototerapi dimulai. Begitu kadar bilirubin sudah menurun, maka bayi kamu akan diperiksa setiap 6-12 jam sekali.
  • Bayi kamu tetap diberikan ASI atau susu selama terapi ini berlangsung.
  • Selama perawatan, suhu bayi kamu akan dipantau untuk memastikan tidak terlalu panas dan akan diperiksa tanda-tanda dehidrasi. Jika mengalami dehidrasi, maka Si Kecil mungkin akan memerlukan cairan intravena (infus).

Penanganan menggunakan fototerapi akan dihentikan setelah kadar bilirubin turun ke tingkat yang aman, dan biasanya fototerapi ini memakan waktu 1-2 hari. Kendati fototerapi sangat dianjurkan untuk mengobati bayi kuning, namun pada keadaan tertentu, fototerapi ini mungkin menimbulkan efek samping pada bayi kamu. Efek samping tersebut meliputi dehidrasi, diare, dan timbulnya ruam kulit yang akan hilang begitu terapi atau perawatan dihentikan.

Fototerapi tidak harus dilakukan di rumah sakit, karena kamu bisa melakukannya di rumah. Namun, kamu harus memahami secara benar bagaimana menggunakan semua peralatan terkait perawatan tersebut sesuai dengan anjuran dokter.

Read More

Kenali Lemak Subkutan yang Bermanfaat, Tapi Bisa Berbahaya

Secara umum, tubuh kita terdiri dari dua jenis lemak utama, yaitu lemak visceral dan lemak subkutan. Organ-organ tubuh kita dibalut oleh lemak visceral. Bila kadarnya tidak terkendali lemak ini juga dapat menimbulkan risiko penyakit.

Lalu, bagaimana dengan lemak subkutan?

Mengenal lemak subkutan

Sesuai namanya, lemak subkutan terletak di lapisan terdalam kulit. Jadi, berbeda dengan lemak visceral yang terletak di dalam tubuh dan membalut organ, lemak subkutan berada di bawah kulit dan bisa kita “pegang”. Sebagai contoh, Anda dapat merasakan lemak pada perut yang buncit.

Apabila kadarnya terkendali, lemak subkutan memiliki manfaat bagi tubuh, antara lain untuk menyimpan energi, melindungi otot dan tulang dari benturan ketika jatuh, menjadi jalan untuk saraf dan pembuluh darah antara kulit dan otot, membantu mengatur suhu tubuh, serta mengaitkan kulit dermis dengan otot dan tulang melalui penghubung khusus. Fungsinya cukup vital, ya?

Sayangnya, jika kadar lemak subkutan terlalu tinggi, bukan hanya manfaat yang akan kita dapat berbagai gangguan kesehatan pun dapat muncul. Beberapa penyakit yang dapat dipicu oleh tingginya kadar lemak subkutan ini seperti penyakit jantung dan stroke, tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, gangguan tidur apnea, penyakit ginjal, perlemakan hati, hingga jenis kanker tertentu.

Penyebab terbentuknya lemak subkutan dan cara menguranginya

Faktor keturunan atau genetik termasuk yang memegang peranan dalam kadar lemak subkutan yang dimiliki oleh seseorang. Akan tetapi, gaya hidup juga turut berpengaruh.

Asupan kalori yang lebih besar dibanding kalori yang dikeluarkan, tidak banyak bergerak, massa otot kecil, jarang melakukan aktivitas aerobik, termasuk beberapa hal yang dapat meningkatkan kadar lemak subkutan di dalam tubuh. Adanya penyakit diabetes serta resistensi sel tubuh terhadap insulin juga dapat memengaruhi kadar lemak subkutan.

Pada kondisi demikian, Anda perlu berusaha mengurangi kadar lemak ini. Berikut ini, cara yang dapat Anda lakukan untuk menurunkan kadar lemak subkutan.

– Menjaga pola makan

Hal pertama yang perlu Anda pastikan bila ingin menurunkan kadar lemak subkutan adalah jumlah kalori yang masuk harus lebih sedikit dibanding jumlah kalori yang dibakar atau digunakan.

Rekomendasi dari American Heart Association dan American College of Cardiology, sebaiknya Anda mengonsumsi makanan sehat yang kaya akan buah, sayur, biji-bijian, serta kacang-kacangan. Komponen serat harus menjadi bagian yang banyak Anda konsumsi.

Asupan protein pun tetap perlu diperhatikan. Namun, upayakan untuk konsumsi protein yang rendah lemak.

Di samping itu, sangat disarankan untuk mengurangi komponen makanan yang dapat meningkatkan berat badan, seperti gula, garam, dan lemak jenuh.

– Rutin berolahraga

Sudah bukan rahasia lagi bahwa olahraga merupakan salah satu faktor utama dalam menjaga kesehatan. Tek terkecuali untuk menjaga berat badan dan menurunkan kadar lemak.

Nah, Anda dapat melakukan olahraga kardio yang mampu membakar banyak kalori. Contohnya, berenang, berlari, jalan kaki, bersepeda, atau skipping.

Untuk meningkatkan massa otot dan membantu membakar lemak, Anda juga dapat menambahkan olahraga angkat beban. Jenis olahraga angkat beban juga dapat membantu melancarkan metabolisme.

Kini, Anda sudah mengetahui bahwa lemak subkutan bermanfaat bagi tubuh, namun dapat menimbulkan masalah jika kadarnya berlebihan. Kadar lemak subkutan ini dapat diketahui berdasarkan angka Indeks Massa Tubuh (IMT). Anda cukup membagi tinggi badan dengan berat badan Anda. Bila hasilnya antara 18,5-24,9, berarti IMT Anda normal.

Bagaimana jika lebih dari angka tersebut? Anda perlu waspada dan mulai menerapkan pola hidup sehat.

Read More
Penyakit

Diagnosa dan Perawatan Peritonitis

peritonitis

Peritonitis merupakan peradangan pada peritoneum, sebuah selaput seperti sutra yang melapisi dinding perut dan menutup organ-organ tubuh di dalam perut, yang karena adanya infeksi bakteri dan jamur. Peritonitis dapat terjadi akibat adanya perpecahan di perut, atau sebagai bentuk komplikasi kondisi medis tertentu lain. Peritonitis membutuhkan perhatian medis yang cepat dan segera untuk melawan infeksi dan, apabila diperlukan, merawat kondisi medis penyebab penyakit ini. Perawatan peritonitis biasanya terdiri dari antibiotik dan operasi. Apabila tidak dirawat, peritonitis dapat menyebabkan infeksi di seluruh tubuh yang parah dan fatal.  Apabila Anda sedang dalam terapi dialisis peritoneal, Anda bisa mencegah terjadinya peritonitis dengan mengikuti kebiasaan kebersihan yang baik sebelum dan sesudah dialisis dilakukan. 

Kapan Anda harus menghubungi dokter?

Peritonitis dapat menjadi sebuah kondisi yang mengancam nyawa apabila tidak dirawat dan diobati secepatnya. Segera hubungi dokter apabila Anda merasakan sakit di perut, perut terasa kembung, dan rasa kenyang yang diikuti oleh demam, mual dan muntah, keluarnya cairan urin dalam jumlah sedikit, haus, serta tidak mampu buang angin. Apabila Anda sedang menjalani terapi dialisis peritoneal, hubungi penyedia layanan kesehatan apabila cairan dialisis Anda keruh dan terlihat adanya gumpalan-gumpalan asing. Selain itu, waspadai apabila area di sekitar kateter mengeluarkan bau yang tidak normal serta muncul tanda-tanda kemerahan disertai rasa sakit. 

Diagnosa penyakit peritonitis

Apabila Anda memiliki gejala-gejala peritonitis seperti yang disebutkan sebelumnya, hubungi petugas medis guna mendapatkan perawatan dan pengobatan secepatnya. Menunda-nunda perawatan dapat membahayakan nyawa Anda. Dokter akan bertanya seputar riwayat kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik penuh. Dokter juga akan menyentuh dan menekan bagian perut Anda, yang mungkin akan memberikan sedikit rasa sakit atau tidak nyaman. Selain itu, ada beberapa jenis tes yang akan dilakukan untuk mendiagnosa peritonitis, termasuk:

  • Tes darah, disebut juga jumlah darah komplit (CBC), yang akan mengukur jumlah sel darah putih. Jumlah sel darah putih yang tinggi biasanya menjadi tanda adanya peradangan dan infeksi. Kultur darah juga dapat membantu mengidentifikasi bakteri yang menyebabkan infeksi dan peradangan. 
  • Apabila Anda memiliki penumpukan cairan di perut, dokter akan menggunakan jarum untuk mengambilnya dan mengirimnya ke laboratorium untuk mendapatkan analisa cairan. Kultur cairan tersebut dapat membantu dalam proses identifikasi bakteri.
  • Tes pencitraan, seperti pemindaian CT dan sinar-X dapat menunjukkan adanya sobekan atau lubang pada peritoneum Anda. 

Apabila Anda sedang mendapatkan terapi dialisis, dokter dapat mendiagnosa peritonitis berdasarkan tampilan cairan dialisis yang terlihat keruh. 

Perawatan penyakit peritonitis

Langkah pertama dalam mengobati peritonitis adalah menentukan penyebab penyakit tersebut. Perawatan biasanya terdiri dari pemberian antibiotik untuk melawan infeksi dan obat-obatan untuk mengatasi rasa sakit. Apabila perut Anda terinfeksi, memiliki abses, dan apendiks yang meradang, Anda membutuhkan operasi untuk mengangkat jaringan yang terinfeksi. Apabila Anda sedang menerima terapi dialisis ginjal dan memiliki peritonitis, Anda mungkin harus menunggu hingga infeksi benar-benar sembuh untuk menerima dialisis lanjutan. Apabila infeksi terus terjadi, Anda mungkin harus berganti mendapatkan tipe dialisis lain yang berbeda. 

Perawatan peritonitis Anda harus dimulai segera untuk menghindari adanya komplikasi fatal dan serius. Beberapa komplikasi tersebut di antaranya adalah infeksi aliran darah dan infeksi di seluruh tubuh (sepsis). Sepsis akan terus menyebar ke seluruh tubuh dan dapat menyebabkan kematian dan kegagalan organ tubuh.

Read More

Dikait-kaitkan dengan Virus Corona, Vaksin BCG Terus Dimatangkan

Virus Corona menjadi momok menakutkan beberapa bulan belakangan. Keberadannya telah menyebabkan pandemi Covid-19 di lebih dari 200 negara. Tak kurang dari dua juta orang telah terinfeksi, sementara obat atau penangkalnya belum ditemukan hingga kini. Namun, protokol medis tengah mengupayakan itu. Selain terus menggenjot penciptaan vaksin khusus, beberapa vaksin yang sudah ada, seperti vaksin BCG, juga diteliti agar dapat menjadi “obat” sementara penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini.

Sebenarnya, vaksin BCG merupakan penangkal tuberkolosis atau TB. Penyakit yang juga menyerang paru-paru ini disebabkan oleh infeksi bakteri, Mycobacterium tuberculosis. Vaksin BCG merupakan kepanjangan dari Bacille Calmette-Guerin.

Sejak pandemi Covid-19 merebak, vaksin yang telah berusia satu abad ini terus dikait-kaitkan. Penelitian demi penilitian untuk membuktikan hubungan keduanya pun terus dilakukan.

Semua bermula dari sebuah studi yang diunggah di medRxiv, sebuah situs penelitian medis yang tidak dipublikasikan itu menemukan korelasi antara negara-negara yang mengharuskan warga negaranya untuk mendapatkan vaksin BCG menunjukkan lebih sedikit jumlah kasus dan kematian yang dikonfirmasi dari Covid-19.

Gonzalo Otazu seorang Asisten Profesor di Institut Teknologi New York yang juga merupakan penulis dari studi tersebut mulai melakukan analisis usai mengetahui jumlah kasus yang rendah di Jepang meskipun negara itu termasuk yang paling awal melaporkan kasus virus corona di luar Tiongkok.

Kendati tidak melakukan lockdown seperti yang dilakukan oleh negara lain, kasus di Jepang tidak sebanyak Amerika Serikat atau Italia. Otazu, yang mengetahui bahwa sebelumnya telah ada penelitian yang menunjukkan bahwa BCG memberikan perlindungan tidak hanya bakteri TBC tapi juga penyakit menular lain kemudian mencoba mengumpulkan data. Dari situ ia berkeyakinan bahwa vaksin BCG memiliki potensi untuk digunakan meredakan pandemi Covid-19.

  • Vaksin BCG Membuat “Kebal” dari Virus Corona

6 Ilmuwan dari Department of Biomedical Sciences, NYIT College of Osteopathic Medicine, New York Institute of Technology meneliti hubungan imunisasi BCG dan tingkat kematian akibat COVID-19.

Mereka menjumpai fakta bahwa negara tanpa imunisasi BCG memiliki tingkat kematian lebih tinggi daripada yang punya imunisasi BCG. Negara tanpa imunisasi BCG yang diteliti adalah Italia, Amerika Serikat, Belanda, dan Belgia.

Negara dengan imunisasi BCG punya tingkat kematian rata-rata 0,4-0,78 per satu juta penduduk. Negara tanpa imunisasi BCG punya tingkat kematian rata-rata 7,3-16,39 per satu juta penduduk atau lebih tinggi dari negara dengan imunisasi BCG.

Contoh perbandingan langsung adalah Italia tanpa imunisasi BCG punya tingkat kematian lebih tinggi akibat virus Corona dibandingkan Jepang yang punya imunisasi BCG.

Ada temuan lain, yakni negara miskin dengan imunisasi BCG juga punya tingkat kematian yang lebih rendah daripada negara kaya tanpa imunisasi BCG. Tingkat ekonomi dan populasi juga jadi pertimbangan para peneliti karena terkait dengan akses terhadap layanan kesehatan.

Imunisasi BCG menurut tim, mungkin memberikan perlindungan jangka panjang ketika akhirnya ada virus corona. Nah, penelitian para ilmuwan tersebut baru sampai tahap ini. Sekali lagi, temuan awal ini memang harus diuji lebih lanjut oleh para pakar.

  • Diklaim Dapat Menekan Pandemi

Para peneliti itu tetap berharap bahwa BCG bisa menjadi jembatan yang mampu menekan dampak keseluruhan pandemi hingga ada vaksin yang siap digunakan. Otazu dan tim sendiri mencoba mengumpulkan data tentang negara mana saja yang memiliki kebijakan vaksin BCG universal dan kapan mereka melakukan kebijakan itu.

Mereka kemudian membandingkan jumlah kasus dan kematian yang dikonfirmasi dari Covid-19 untuk menemukan korelasi yang kuat. Hasilnya negara-negara maju seperti AS dan Italia yang memiliki jumlah kasus Covid-19 secara besar, hanya menggunakan vaksin BCG sebatas rekomendasi bagi mereka yang mungkin berisiko. Sedangkan Jerman, Spanyol, Perancis, Iran, dan Inggris yang juga memiliki kasus besar, dulunya memiliki kebijakan vaksin BCG tetapi kemudian mengakhirinya bertahun-tahun hingga puluhan tahun yang lalu.

Sementara China, lokasi awal pandemi, memiliki kebijkan vaksin BCG tetapi tidak dipatuhi sebelum 1976. Negara-negara termasuk Jepang dan Korea Selatan yang tampaknya telah berhasil mengendalikan penyakit sejauh ini. Pasalnya mereka memiliki kebijakan vaksin BCG universal.

Read More
Penyakit

Mitos atau Fakta Obat HIV Bisa Sembuhkan Covid-19?

Wabah corona virus atau covid-19 saat ini masih menjadi sumber ketakutan dunia karena penyebarannya yang demikian cepat. Tidak hannya dokter dan petugas yang berdiri di garda depan untuk menolong pasien, para ilmuwan dan peneliti pun bekerja keras mencari cara untuk bisa membasmi obat tersebut dengan menciptakan obat yang mujarab.

Namun memang, sampai saat ini belum ada obat baru yang bisa pasti mematikan serangan corona virus di tubuh manusia. Menyadari hal tersebut, penggunaan obat-obat lama yang diyakini bisa meredakan gejala corona virus pun diuji coba. Salah satunya menggunakan obat HIV.

Penggunaan obat HIV ini yang belakangan dipercaya mampu menyembuhkan pasien yang terserang covid-19. Namun, apakah benar demikian? Berikut cek fakta-fakta dari penggunaan obat tersebut untuk para pasien corona virus, yuk.

Sudah diuji untuk pneumonia

Asumsi bahwa obat HIV dapat mengurangi gejala bahkan mengobati pasien yang terkena covid-19 sejatinya sudah diuji coba. Adalah obat jenis iopinavir dan dan ritonavir, yang diuji coba kepada pasien-pasien corona virus yang mengalami gejala pneumonia. Penggunaan obat HIV tersebut pada pasien yang terkena covid-19 diharapkan bertujuan untuk meringankan gejala masalah pernapasan yang dialami pasien.

China negara pertama

Sama seperti awal mula bewabahnya virus corona baru yang ditemukan di dataran China, penggunaan obat HIV untuk mengurangi gejala dari sakit yang ditimbulkan juga pertama kali digagas oleh China. Negeri Tirai Bambu tersebut menggunakan iopinavir dan ritonavir kepada 199 pasien yang mengalami gejala pneumonia parah akibat corona virus.

Tujuan menghambat kerja enzim

Mengapa obat HIV akhirnya dipilih oleh para ilmuwan dan peneliti untuk menangani pasien-pasien yang terkena virus corona baru? Ini bukan tanpa sebab. Pasalnya, para peneliti melihat ada kesamaan antara gejala pneumonia yang ditimbulkan ole covid-19 dengan yang ditimbulkan oleh HIV. Kedua gejala tersebut memerlukan enzim protease untuk bisa mempercepat gejala. Obat-obat HIV yang diberikan sendiri memiliki sifat menghambat perkembangan enzim protease tersebut. Dengan demikian, diharapkan gejala sakit yang ditimbulkan oleh virus corona dapat diredam.

Mulai digunakan banyak negara

Mula-mula obat HIV untuk penanganan virus corona memang baru diimplimentasikan di dataran China. Namun seiring merebaknya virus ini, penggunaan iopinavir dan ritonavir mulai dilirik oleh negara-negara lain. Jepang menjadi negara yang ikut menggunakan obat HIV untuk penanganan virus corona. Di mana pemberiannya bukan sebatas pada pasien dengan gejala pernapasan, namun kepada pasien yang mengalami gejala demam. Thailand juga melakukan hal yang sama. Uniknya di Thailand, penggunaan obat HIV untuk menurunkan gejala covid-19 digabung dengan pemberian obat flu kepada pasien.

Didapati ada efek

Mengapa akhirnya penggunaan obat HIV banyak digunakan untuk penanganan pasien yang terjangkit covid-19? Soalnya berdasarkan pengalaman dari negara-negara yang memakainya, ada efek dari penggunaan obat-obatan tersebut. Dalam sebuah laporan jurnal JAMA yang terbit pada Maret 2020, disebutkan bahwa 3 dari 5 pasien penderita covid-19 yang diberikan obat HIV bisa pulih setelah diberikan obat HIV yang dikombinasikan dengan obat flu. Hal tersebut memberikan harapan bahwa obat ini bisa menjadi jawaban untuk penanganan wabah corona virus di dunia.

Hasil tidak memuaskan

Hanya saja, covid-19 tetaplah virus baru yang memerlukan penelitian lama agar sebuah obat cocok untuk menangani gejala yang dialami oleh para penderitanya. Meskipun di sebuah jurnal ada efek dari penggunaan obat HIV untuk pasien covid-19, nyatanya dalam skala lebih besar penggunaan iopinavir maupun ritonavir justru mendatangkan efek yang kurang memuaskan. Dalam New England Journal of Medicine disebutkan, sebanyak 94 pasien dari 100 pasien covid-19 yang diberikan obat HIV tidak menunjukkan gejala kesembuhan. Bahkan sebagian dari mereka justru merasakan gejala sakit tambahan berupa diare parah setelah diberikan obat HIV.

***

 Bisa dikatakan sampai saat ini efektif atau tidaknya penggunaan obat HIV untuk pasien covid-19 belum mampu disimpulkan karena beragamnya efek yang ditimbulkan. Karena itu, pencegahan dan penghambatan penularan virus corona masih menjadi satu-satunya jalan terbaik untuk terhindari dari sakit yang ditimbulkan penyakit ini.

Read More

Mengenal Penyebab dan Obat Gusi Bengkak

Adanya pembengkakan pada gusi sangat membuat tidak nyaman. Gusi bengkak yang tidak ditangani dengan tepat juga dapat memengaruhi tulang serta jaringan yang menopang gigi. Adapun obat gusi bengkak akan berbeda bagi tiap orang, sebab sangat tergantung pada penyebabnya.

Penyebab timbulnya pembengkakan gusi

Kondisi gusi bengkak umumnya ditandai dengan adanya pembesaran gusi atau gusi menjadi menggelembung dan menonjol. Pada kasus tertentu, pembengkakan gusi dapat cukup besar, sehingga menutupi gigi secara keseluruhan.

Sebetulnya, hal apa saja yang dapat menyebabkan gusi bengkak? Berikut ini beberapa hal yang mungkin jadi penyebab.

– Penumpukan plak pada gigi

Di dalam plak, terdapat banyak bakteri yang dapat mengganggu kesehatan gusi.

– Terjadinya gingivitis

Gingivitis merupakan suatu peradangan pada gusi. Tandanya, bagian gusi di sekitar akar gigi memerah.

– Infeksi virus atau jamur

– Pengaruh hormon pada masa kehamilan

– Adanya kebiasaan merokok

– Kekurangan gizi atau kekurangan vitamin C

– Efek samping obat-obatan tertentu.

Cara atasi gusi bengkak

Banyak orang yang keliru, menganggap nyeri yang timbul akibat gusi bengkak adalah gejala sakit gigi. Padahal obat gusi bengkak berbeda dengan sakit gigi. Bahkan cara penanganan atau obat gusi bengkak antara orang yang satu dengan lainnya pun berbeda, tergantung penyebab serta kondisi kesehatan orang tersebut.

Apabila Anda mengalami gusi bengkak, di bawah ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

1. Bersihkan karang gigi

Seperti disebutkan sebelumnya, gingivitis merupakan salah satu penyebab gusi bengkak. Radang tersebut biasanya dapat timbul karena adanya penumpukan sisa makanan di gigi dan gusi yang mengeras, pada akhirnya terbentuk plak.

Nah, bila gusi bengkak yang terjadi pada Anda disebabkan oleh gingivitis, maka langkah pertama yang dapat Anda lakukan adalah membersihkan karang gigi atau plak. Anda tentu tidak bisa melakukannya sendiri, tindakan ini harus dilakukan oleh dokter gigi.

Membersihkan karang gigi ini ini dapat menjadi obat gusi bengkak. Biasanya, karang gigi menjadi tempat menumpuknya bakteri dan jamur yang mengakibatkan peradangan gusi. Oleh sebab itu, setelah dibersihkan, gusi yang bengkak biasanya perlahan normal kembali.

2. Menjaga kebersihan gigi dan mulut

Beberapa ibu hamil mengalami gusi bengkak karena perubahan hormon, cara paling sederhana untuk mengatasi kondisi tersebut dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut.

Disarankan untuk menyikat gigi dua kali sehari dan membersihkan sisa-sisa makanan serta kotoran di sela-sela gigi, menggunakan benang gigi. Apabila terdapat banyak karang gigi, disarankan untuk melakukan prosedur pembersihan karang gigi di dokter gigi.

Ketika menyikat gigi, disarankan untuk menggunakan sikat gigi berbulu halus agar tidak melukai gusi.  Sementara waktu, hindari penggunaan obat kumur yang berbahan terlalu keras atau mengandung alkohol.

3. Pembedahan

Gusi bengkak juga dapat terjadi akibat pertumbuhan gusi berlebih karena efek samping obat-obatan serta terjadinya abses. Kondisi ini merupakan infeksi bakteri yang menimbulkan benjolan di gusi yang berisi cairan.

Obat gusi bengkak yang disebabkan oleh abses atau pertumbuhan gusi berlebih adalah dengan melakukan pembedahan.

– Pembedahan abses

Untuk membuat gusi kempis seperti semula, dokter gigi akan mengeluarkan cairan yang terdapat di dalam benjolan. Setelah pembedahan, dokter biasanya meresepkan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi.

– Pembedahan pertumbuhan gusi berlebih

Metode pembedahan untuk mengatasi pertumbuhan gusi berlebih bisa dilakukan secara manual atau laser. Anda dapat berdiskusi dengan dokter terkait kelebihan dan kekurangan kedua metode tersebut.

Obat gusi bengkak memang tidak bisa berdiri sendiri, kebanyakan harus dikombinasikan satu sama lain. Berkonsultasilah dengan dokter gigi untuk memperoleh perawatan yang komprehensif.

Read More