Jenis-jenis Tes Mata Silinder yang Bisa Dipilih

Apakah akhir-akhir ini Anda mengalami masalah mata seperti pandangan sulit melihat jelas khususnya di malam hari dan sulit menilai jarak dari satu tempat ke tempat lain? Jika iya, baiknya Anda menjalani tes mata silinder. Besar kemungkinan dengan gejala yang dialami, Anda sudah mengalami astigmatisme atau yang dikenal sebagai mata silinder. 

Kondisi astigmatisma terjadi karena ada ketidaksempurnaan dalam kelengkungan kornea mata atau lensa. Jadi, mata tidak bulat sepenuhnya. Kondisi mata yang kurang bulat sempurna membuat cahaya yang masuk langsung ke retina kurang fokus. Alhasil, gambar yang tercipta menjadi tidak tajam dan tidak jelas. Tidak jarang pengidap mata silinder akan mengalami distorsi ketika melihat sesuatu sehingga sulit mengukur jarak. 

Ada banyak jenis tes mata silinder yang dapat Anda lakukan untuk memastikan benar tidaknya Anda mengalami astigmatisme. Berikut ini adalah beberapa jenis tes mata silinder yang bisa Anda coba. 

  1. Tes Manual Penglihatan 

Tes mata silinder yang paling sederhana adalah melakukan tes penglihatan secara manual. Anda akan disuguhkan kertas dengan rangkaian huruf berbagai ukuran yang tertempel di tembok. Jarak antara posisi Anda dengan kertas tersebut bisa berkisar 5—6 meter. Dokter nantinya akan meminta Anda untuk membaca tiap huruf dalam berbagai ukuran tersebut.

Jika bisa, artinya mata Anda tidak mengalami masalah. Apabila Anda tidak bisa membaca huruf yang semakin kecil, Anda kemungkinan mengalami miopia. Jika Anda bisa membaca tiap huruf namun agar terbata karena berbayang, ada kemungkinan Anda mengalami mata silinder. Dokter mata umumnya akan meminta Anda melakukan tes lebih lanjut untuk memastikan diagnosis.

  1. Refraksi 

Refraksi merupakan tes mata yang tergolong umum pula dilakukan oleh tiap dokter mata. Tidak hanya untuk tes mata silinder, berbagai keluhan mata pun kerap dianalisis menggunakan metode refraksi. Tes ini memungkinkan dokter melihat respons mata Anda terhadap cahaya sehingga penanganan yang lebih tepat bisa diambil. 

Cara melakukan tes dengan refraksi pun cukup sederhana. Anda akan dipasangkan alat seperti kacamata yang bernama phoropter. Kemudian sejumlah lensa akan ditempatkan oleh dokter di depan mata Anda lewat phoropter. Tiap lensa akan membantu Anda untuk melihat dengan lebih jelas. Nantinya, dokter akan mengukur kemampuan mata Anda lewat pemfokusan cahaya dengan bantuan lensa-lensa yang terpasang. Dari situlah, nantinya dokter dapat melihat kondisi mata Anda secara lebih detail dan memastikan masalah apa yang sebenarnya Anda alami. 

  1. Topografi Kornea 

Jenis tes mata silinder ini lebih modern dan dapat digunakan pula ke berbagai jenis masalah mata, seperti miopi atau biopi. Melalui topografi kornea, dokter dapat menggali informasi secara detail mengenai bentuk kornea Anda. Dari cara inilah, bisa diketahui apakah kornea Anda bulat sempurna atau tidak yang dikenal dengan istilah mata silinder. 

Tes ini pun tidak sulit. Dokter hanya akan menyuruh Anda untuk fokus melihat suatu objek lewat sebuah alat. Nantinya, alat tersebut akan mengumpulkan berbagai informasi terkait mata Anda berdasarkan kemampuan fokus Anda. Barulah dari sana bisa disimpulkan apakah Anda menderita mata silinder atau tidak. 

  1. Keratometri 

Alat yang digunakan untuk tes mata silinder ini lebih sederhana dibandingkan Anda melakukan tes topografi kornea. Alat yang bernama keratometer akan ditaruh di depan mata Anda untuk mengukur lengkungan yang terletak di belakang mata. 

Dengan mengetahui lengkungan, dokter bisa memastikan bulat tidaknya bentuk mata Anda. Jika tidak, artinya Anda mengalami mata silinder dan memerlukan bantuan kacamata untuk bisa melihat lebih jelas. 

*** 

Jangan menunda melakukan tes mata silinder apabila Anda sudah mengalami tanda-tanda mata silinder. Pemeriksaan yang lebih awal akan membuat kasus mata silinder Anda tidak bertambah parah.

Read More

15 Cara Mudah Mengatasi Kesedihan bagi Penderita Hypophrenia

Sama seperti kebahagiaan, kesedihan juga bisa menular. Tapi pernahkah Anda merasa sedih secara tiba-tiba tanpa mengetahui penyebabnya? Meski tidak ada sebutan paten, beberapa referensi menyebut kondisi ini sebagai hypophrenia.

Hypophrenia bisa dipicu oleh ingatan akan pengalaman masa lalu seperti perpisahan, pengkhianatan, atau peristiwa traumatis lainnya, atau khawatir pada diri sendiri. Perubahan suasana hati juga bisa disebabkan karena perubahan atau adanya gangguan hormonal. Dalam kasus tertentu, hypophrenia juga disebabkan karena gangguan saraf dan otak.

Untuk mengatasi rasa sedih dan menumbuhkan kembali kegembiraan, berikut ini tips sederhana yang bisa dicoba:

  • Mendengarkan musik upbeat

Melodi dan irama musik cukup berpengaruh pada suasana hati. Beberapa orang menganggap musik sebagai makanan jiwa. Nada sedih akan membuat Anda sedih, sementara mendengarkan musik yang ceria dan menyentak menciptakan getaran yang lebih positif.

Musik yang cerita akan meningkatkan hormon kesenangan di otak dan akan secara otomatis membuat tubuh dan pikiran lebih bersemangat.

  • Hentikan pembicaraan negatif mengenai diri sendiri

Penyesalan dan rasa khawatir terhadap diri sendiri dapat memicu perasaan sedih. Jika terjadi secara berlarut-larut kondisi ini akan berujung pada gejala depresi.

Mulailah berhenti menyalahkan diri sendiri dan menerima semua kejadian yang telah lalu. Berhenti menganggap bahwa Anda tidak berharga. Melalui penerimaan, Anda bisa melepaskan kekecewaan dan membuat perasaan menjadi lebih ringan.

  • Mengonsumsi asam lemak omega-3

Hypophrenia dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormon. Mengonsumsi asam lemak omega-3 dapat memperbaiki suasana hati.

Dalam sebuah penelitian tahun 2002 yang dimuat dalam  Archives of General Psychiatry, membuktikan bahwa mengonsumsi 1 gram minyak ikan setiap hari dapat menurunkan kecemasan, gangguan tidur, perasaan sedih tanpa alasan, dan mengatasi berbagai gejala depresi lainnya.

Anda bisa mengonsumsi omega-3 dalam bentuk suplemen atau mengonsumsinya dari sumber makanan seperti ikan salmon, kacang kenari, biji rami, dan ikan tuna.

  • Menulis jurnal

Menulis jurnal atau catatan harian dapat membantu Anda melepaskan kesedihan dan memantau perkembangan suasana hati Anda dari waktu ke waktu. Anda bisa mengetahui penyebab dari perubahan suasana hati yang terjadi.

Anda juga mengisi jurnal dengan menuliskan hal-hal yang terjadi di hari tersebut yang membuat Anda bersukur. Jurnal sukur akan membantu Anda merasa lebih positif dan lebih berharga.

  • Istirahat yang cukup

Tidur memiliki kaitan yang erat dengan suasana hati. Kecemasan, kesedihan, dan pikiran negatif lainnya kerap dipicu oleh kurangnya waktu tidur.

Sebuah penelitian membuktikan bahwa waktu dan kualitas tidur secara langsung memengaruhi kualitas hidup, termasuk ketajaman mental, kesejahteraan, produktivitas, keseimbangan emosional, kreativitas, vitalitas fisik, hingga berat badan.

Agar tidur menjadi berkualitas, pastikan untuk tidak bermain ponsel saat sudah di tempat tidur. Anda juga harus menghindari mengonsumsi stimulan seperti kafein beberapa jam sebelum tidur.

  • Berolahraga

Olahraga memiliki manfaat kesehatan baik fisik maupun mental. Olahraga melepaskan hormon endorfin yang berperan sebagai peningkat imunitas tubuh dan memperbaiki suasana hati.

Adapun secara fisik olahraga menawarkan manfaat kesehatan berupa menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan risiko penyakit jantung dan kanker, dan banyak lainnya.

Para ahli menyarankan untuk berolahraga ringan selama setengah jam hingga satu jam. Akan lebih baik untuk berolahraga di luar saat pagi atau sore hari. Paparan sinar matahari juga mampu membuat suasana hati menjadi lebih baik.

Tentunya Anda tidak ingin melewatkan manfaat berlipat ganda tersebut.

Apabila kondisi hypophrenia Anda tak kunjung membaik walau telah melakukan berbagai cara, ada baiknya untuk mendatangi konselor dan meminta bantuan. Apabila kondisinya semakin memburuk, sangat mungkin untuk mendapatkan penanganan yang lebih kompleks.

Read More

Asma Menular atau Tidak, Sih? Intip Penjelasan Berikut!

Asma adalah salah satu gangguan pernapasan yang menyebabkan sesak napas, dada sesak, batuk, dan mengi. Penyakit ini bisa terjadi karena saluran bronkial di paru-paru mengalami peradangan dan penyempitan. Akibatnya, aliran udara jadi terbatas dan Anda pun kesulitan bernapas. Namun, apakah penyakit asma menular atau tidak? Sebagian dari Anda mungkin ada yang menjawab tidak, ada pula yang menjawab iya. Mana yang benar? Inilah faktanya.

Gejala asma

Gejala asma pada setiap orang bisa berbeda-beda dari waktu ke waktu. Namun, secara umum tanda dan gejala asma yang tidak terkontrol, meliputi:

  • Sesak napas.
  • Batuk biasa.
  • Menimbulkan bunyi mengi.
  • Sesak dada.
  • Peningkatan produksi lendir.
  • Susah tidur karena kesulitan bernapas.
  • Tidak bisa melakukan aktivitas fisik karena sulit bernapas.

Gejala tersebut bisa terjadi secara perlahan selama berjam-jam atau berhari-hari. Bisa pula muncul sebagai serangan yang berulang dan tiba-tiba. Jika asma tidak diobati, maka dapat menyebabkan perubahan struktur yang permanen pada saluran pernapasan Anda. Perubahan ini disebut juga dengan perubahan model saluran napas. Inilah mengapa Anda penting untuk mengelola dan mengendalikan penyakit asma Anda, meskipun Anda harus mengobatinya dalam waktu lama.

Faktor pemicu asma

Faktor pemicu di sini maksudnya adalah segala sesuatu yang dapat mengiritasi saluran pernapasan Anda dan memicu serangan asma. Ada dua jenis faktor pemicu asma, yaitu:

  1. Pemicu alergi, menyebabkan reaksi alergi. Contohnya tungau debu, serbuk sari, jamur, dan bulu hewan peliharaan.
  2. Pemicu non-alergi, biasanya bersifat iritan. Contohnya asap, udara dingin, polutan udara tertentu, dan terlalu emosi.

Apa yang menyebabkan asma terjadi?

Sebagian besar penyebabnya masih belum diketahui. Namun, para peneliti menduga bahwa asma dapat disebabkan oleh faktor keturunan. Hanya karena Anda memiliki orang tua yang menderita asma, tidak berarti Anda juga akan mengidapnya. Namun, jika salah satu atau kedua orang tua Anda menderita asma, kemungkinan besar Anda akan memiliki asma. Hubungan ini masih perlu dibuktikan lagi secara ilmiah.

Hingga saat ini, para peneliti telah menentukan beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang terserang asma, yaitu:

  • Riwayat keluarga.
  • Alergi.
  • Lahir prematur.
  • Infeksi paru-paru.
  • Paparan dari pekerjaan tertentu, seperti gas, partikel debu, asap, dan uap kimia.
  • Hormon.
  • Kualitas udara lingkungan.
  • Kegemukan.

Apakah asma bisa disembuhkan?

Saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit asma. Namun, dengan melakukan pengobatan yang tepat, asma dapat dikelola dengan baik. Umumnya, obat-obatan untuk mengelola asma adalah obat antiradang, antikolinergik, dan bronkodilator berupa inhaler atau nebulizer.

Cara mencegah serangan asma kambuh

Meskipun tidak ada cara untuk mencegah penyakit asma, Anda dan dokter dapat berdiskusi untuk mengelola penyakit ini, sehingga risiko kekambuhannya bisa ditekan seminimal mungkin.

Beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mengelola dan mengurangi risiko asma kambuh adalah:

  • Hindari faktor pemicu asma Anda. 
  • Selalu stand by obat pereda serangan asma.
  • Minum obat sesuai dengan resep dari dokter.
  • Jika Anda mengandalkan inhaler bantuan cepat, seperti albuterol, tetapi asma tidak terkendali, segeralah temui dokter Anda untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Menepis keraguan, asma menular atau tidak? 

Asma adalah penyakit kronis, bukan penyakit menular. Umumnya, penyakit yang bisa menular disebabkan oleh infeksi kuman, bakteri, atau virus. Sementara itu, asma tidak disebabkan oleh mikroorganisme tersebut, melainkan dipicu oleh beberapa faktor yang menyebabkan asma terjadi.

Normalnya, otot-otot yang mengelilingi saluran pernapasan di paru-paru dalam keadaan rileks. Namun, pada penderita asma, otot-otot ini jadi sensitif dan meradang. Ketika penderita asma menemukan faktor pemicunya, maka otot-otot tersebut akan bereaksi dengan kencang, lapisan saluran udara membengkak, dan saluran udara pun dapat terisi dengan lendir. Inilah yang membuat penderita asma jadi sulit bernapas dan menyebabkan serangan asma.

Jadi, jika masih ada yang bingung terkait asma menular atau tidak, jawabannya adalah asma tidak menular, ya.

Read More

Hipertensi Sekunder, Tekanan Darah Tinggi Akibat Penyakit Lain

Hipertensi sekunder merupakan tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh kondisi medis lain yang memengaruhi ginjal, arteri, dan sistem endokrin. Hipertensi sekunder juga dapat terjadi pada masa kehamilan. Hipertensi sekunder ini berbeda dengan jenis tekanan darah tinggi pada umumnya (hipertensi primer). Pada kasus hipertensi primer, tekanan darah tinggi tidak memiliki penyebab yang jelas dan dianggap berhubungan dengan faktor genetik, diet yang buruk, kurangnya olahraga, dan obesitas. Perawatan hipertensi sekunder yang tepat dapat mengontrol kondisi penyebab dan tekanan darah tinggi, untuk kemudian dapat mengurangi risiko komplikasi kesehatan yang serius seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke.

Gejala dan penyebab

Sama halnya dengan tekanan darah tinggi pada umumnya, hipertensi sekunder biasanya tidak memiliki gejala yang spesifik, meskipun tekanan darah Anda berada pada level yang tinggi dan berbahaya. Apabila Anda didiagnosa menderita hipertensi, memiliki gejala berikut ini mengindikasikan bahwa Anda menderita hipertensi sekunder, seperti tekanan darah tinggi yang tidak memberikan respon terhadap obat-obatan tekanan darah; tekanan sistolik lebih dari 180 mm Hg atau tekanan diastolic lebih dari 120 mm Hg; tekanan darah tinggi tiba-tiba sebelum usia 30 tahun atau setelah 55 tahun; tidak memiliki riwayat medis keluarga yang menderita tekanan darah tinggi; dan tidak memiliki berat badan berlebih atau obesitas. Apabila Anda memiliki kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder, Anda perlu memantau tekanan darah dengan lebih rutin.

Beberapa penyakit ginjal yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder, seperti:

  • Komplikasi diabetes. Diabetes dapat merusak sistem penyaringan ginjal, yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi.
  • Penyakit ginjal polikistik. Ini merupakan sebuah kondisi turunan. Kista di ginjal mencegah ginjal untuk bekerja dengan normal dan dapat meningkatkan tekanan darah.
  • Penyakit glomerular. Ginjal Anda menyaring limbah dan sodium menggunakan saringan berukuran mikroskopik bernama glomeruli yang terkadang dapat menyebabkan pembengkakan. Apabila glomeruli tidak dapat bekerja dengan normal, Anda dapat menderita tekanan darah tinggi.
  • Hipertensi renovascular. Hipertensi jenis ini disebabkan karena penyempitan satu atau kedua arteri yang menuju ginjal. Hipertensi renovascular sering disebabkan karena plak berlemak jensi sama yang dapat merusak arteri koroner atau kondisi berbeda di mana otot dan jaringan fibrosa di dinding arteri renal menebal dan mengeras membentuk cincin. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang tidak dapat diobati.

Ada pula kondisi medis lain yang dapat memengaruhi level hormon yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder, seperti:

  • Sindrom Cushing. Pada kondisi ini, obat-obatan kortikosteroid dapat menyebabkan hipertensi sekunder, atau hipertensi dapa tdisebbakan oleh tumor pituitary atau faktor lain yang menyebabkan kelenjar adrenal memproduksi terlalu banyak hormon kortisol.
  • Aldosteronism. Pada kondisi ini, tumor pada salah satu atau kedua kelenjar adrenal, peningkatan pertumbuhan sel normal pada salah satu atau kedua kelenjar adrenal, atau faktor lain yang menyebabkan kelenjar adrenal melepaskan horon aldosterone dalam jumlah yang sangat banyak. Hal ini menyebabkan ginjal menahan garam dan air, dan kehilangan terlalu banyak potassium, yang dapat meningkatkan tekanan darah.
  • Gangguan thyroid. Saat kelenjar thyroid tidak memproduksi cukup hormon thyroid atau terlalu banyak memproduksinya, tekanan darah tinggi dapat terjadi.

Hipertensi sekundar dapat memperparah kondisi medis penyebabnya apabila Anda tidak mendapatkan perawatan segera. Beberapa komplikasi kesehatan akibat hipertensi sekunder di antaranya adalah kerusakan pada arteri, aneurysm, gagal jantung, pembuluh darah yang melemah dan menyempit di ginjal, dan sindrom metabolisme.

Read More

Mengapa Anus Gatal Terjadi?

Anus gatal, atau dikenal dengan istilah pruritus ani, merupakan sebuah gejala umum dari berbagai macam kondisi kesehatan. Kebanyakan kasus anus gatal dapat diobati di rumah tanpa perlu kunjungan ke dokter. Penyebab anus gatal biasanya berhubungan dengan gangguan medis kulit ataupun internal. Anus gatal yang disebabkan karena masalah kulit biasanya dikarenakan oleh atopi dermatitis (salah satu bentuk eksim), gesekan berlebih pada daerah anus, paparan terhadap parfum atau perwarna pada tissue toilet dan sabun, penggunaan tissue toilet yang tidak tepat setelah buang air besar, dan psoriasis. Sementara itu, kondisi medis yang menyebabkan gejala anus gatal di antaranya adalah diare, wasir, infeksi parasite, infeksi menular seksual, infeksi bakteri, infeksi jamur, fisura anus, dan tumor anus. Obat-obatan yang menyebabkan diare seperti laxative dan makanan seperti coklat, makanan pedas, minum berkafein, tomat, dan buah sitrus juga dapat menyebabkan anus gatal. 

Gejala anus gatal jarang berupa kegawatdaruratan medis. Pengecualian adalah ketika Anda mengalami pendarahan pada dubur. Pendarahan dapat berupa gejala adanya perdarahan gastrointestinal yang sedang terjadi. Buatlah kunjungan ke dokter apabila anus gatal mengganggu aktivitas sehari-hari Anda ataupun bertambah parah ketika telah mendapatkan perawatan. 

Perawatan dan pencegahan

Apabila anus gatal disebabkan oleh infeksi, dokter dapat meresepkan obat antijamur, antibakteri, atau antiparasit untuk membunuh organisme yang menyebabkan gatal. Salep resep yang memiliki dosis steroid tinggi juga dapat mengurangi gatal dan peradangan. Sementara itu, ambeien yang menyebabkan anus gatal dapat membutuhkan perawatan yang lebih invasif, seperti “banding” untuk memperkecil ambeien atau mengangkatnya menggunakan prosedur bedah medis. Anda juga perlu menghindari makanan atau obat-obatan yang dapat menyebabkan gatal pada anus. 

Anda bisa melakukan beberapa langkah perawatan rumahan untuk mengatasi anus gatal. Lakukan hal-hal berikut ini, seperti:

  • Oleskan petroleum jelly pada daerah yang gatal
  • Bersihkan daerah yang gatal dengan air serta waslap lembut saat mandi
  • Keringkan daerah anus dengan menyeluruh setelah menggunakan toilet atau kamar mandi
  • Hindari menggaruk daerah anus saat gatal
  • Hindari penggunaan sabun yang mengandung pewangi ataupun pewarna, karena kedua hal tersebut dapat mengiritasi kulit dan menyebabkan reaksi alergi
  • Gunakan kertas toilet yang tidak mengandung pewarna atau pemutih yang dapat mengiritasi kulit
  • Kenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun lembut dan tidak terlalu ketat

Anda juga bisa mencoba “sitz bath”. Saat sitz bath, Anda menempatkan pantat dan panggul ke dalam air hangat selama 20 menit. Duduk dalam sitz bath setelah buang air besar dapat membantu mengurangi iritasi dan anus gatal. Selalu bersihkan daerah anus dengan lembut dan hingga kering setelah mandi. Anda juga bisa membeli beberapa krim topikal OTC untuk mengatasi anus gatal. Beberapa krim tersebut di antaranya adalah zinc oxide, krim hydrocortisone, atau krim capsaicin topikal. 

Mencegah lebih baik dari mengobati. Dengan melakukan gaya hidup yang sehat, Anda dapat mencegah anus gatal. Beberapa teknik pencegahan tersebut di antaranya adalah menjaga diet yang sehat dan berolahraga secara rutin. Makan makanan sehat dan melakukan olahraga dengan teratur dapat meningkatkan sistem pencernaan guna mencegah diare serta ambeien. Anda juga perlu menjaga kebersihan diri dengan baik. Tubuh yang bersih dapat mencegah anus gatal. Jangan menggaruk bagian anus dan pastikan anus tetap bersih dan kering. Anus gatal merupakan gejala ringan yang umum dijumpai dan biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari. 

Read More
Penyakit

Bisakah Anak-Anak Terserang Ulkus Kornea?

Mata terdiri dari begitu banyak organ atau bagian yang memiliki fungsi masing-masing. Satu sama lain “bekerja” sesuai dengan fungsinya dan saling berkaitan sehingga kita bisa melihat. Salah satu bagian penting dari mata adalah kornea. Masalahnya, kornea bisa terserang berbagai gangguan kesehatan, salah satunya ulkus kornea.

Ulkus dapat dimengerti sebagai sebuah luka di permukaan selaput lendir. Karena kornea juga merupakan selaput, ada kemungkinan ia juga terkena ulkus. Dengan begitu dapat dipahami bahwa ulkus kornea adalah luka terbuka pada bagian kornea mata.

Kondisi ini bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak, selama mereka memiliki faktor risiko. Ada banyak kemungkinan di balik terjadinya ulkus kornea. Biasanya dipicu oleh suatu keadaan trauma benda asing.

Anak-anak yang masih belum memiliki kontrol yang matang terhadap dirinya berisiko besar mengalami kejadian-kejadian yang bisa menyebabkan terjadinya luka, seperti tertusuk sesuatu atau kemasukan benda asing lain.

Kondisi akan berkembang menjadi ulkus kornea jika trauma atau luka itu tidak tak tertangani dengan cepat dan tepat. Keterlambatan penanganan akan menyebabkan mikroorganisme masuk ke dalam kornea sehingga terjadi infeksi atau peradangan.

Selain itu, beberapa kondisi kesehatan lain yang terjadi di mata juga dapat berujung pada kondisi ulkus kornea, seperti acanthamoeba keratitis; herpes simplex keratitis, atau keratitis jamur. Biasanya anak-anak atau orang yang mulai mengalami kondisi ulkus kornea akan merasakan gatal di matanya. Selain itu, mata memerah dan berair atau beberapa gejala fisik lain menjadi gejala dari kondisi yang dapat menyebabkan seseorang kehilangan penglihatannya tersebut.

  • Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan pada Kondisi Ulkus Kornea Anak?

Orang tua harus waspada dan sigap ketika anak mulai mengalami beberapa gejala ulkus kornea. Ketika gejala seperti yang telah disebutkan di atas dirasakan oleh anak, pastikan mereka tidak menggaruk atau mengucek bagian matanya karena justru dapat memperparah gejalanya.

Terkadang anak merasa pandangan matanya kabur dan beberapa di antaranya disertai munculnya bintik putih pada bagian kornea. Mata yang terasa sakit juga menjadi tanda yang harus dijadikan peringatan bagi para orang tua. Jika anak sudah mengeluhkan kondisi matanya lebih sensitif terhadap cahaya atau fotofobia, sebaiknya segera cari pertolongan medis.

Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk memastikan ulkus kornea pada anak, seperti pemeriksaan mata menggunakan mikroskop khusus untuk mata. Ketika anak dicurigai mengalami ulkus kornea, pemeriksaan secara biopsi juga umum dilakukan untuk memastikan penyebab ulkus kornea.

Tidak ada salahnya untuk melakukan perawatan terlebih dulu terhadap kondisi mata anak agar ulkus kornea yang dialami tidak semakin bertambah parah. Sebaiknya ajak anak untuk menjaga kebersihan tangan dengan rutin mencuci tangan untuk menghindari infeksi atau peradangan bertambah parah.

Ulkus kornea memang memerlukan penatalaksanaan yang tepat dan cepat untuk mencegah perluasan ulkus, karena kemungkinan kondisi mata penderita ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan, cepat lambatnya mendapat pengobatan, jenis dari mikroorganisme penyebab infeksi, hingga ada tidaknya komplikasi yang timbul.

  • Upaya Pencegahan Ulkus Kornea pada Anak

Seperti kata orang bijak bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati, jauh lebih penting bagi orang tua untuk mengetahui apa-apa saja yang bisa diupayakan agar anak terhindar dari ulkus kornea.

Orang tua hanya perlu mengenali berbagai kemungkinan penyebab dan berusaha menjaga agar anak tak mengalami luka di bagian mata. Selain itu, asupan nutrisi yang baik dan cukup untuk mata, seperti vitamin A, juga perlu diperhatikan.

Anak yang tidak mendapatkan cukup asupan vitamin A jauh lebih rentan terserang ulkus kornea ketimbang mereka yang mendapatkan asupan vitamin A dengan baik. Selain itu, memenuhi kebutuhan nutrisi serta gizi anak juga penting untuk menjaga kesehatan dan kondisi tubuhnya secara keseluruhan.

Read More

Megakolon Kongenital : Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Megakolon kongenital adalah kelainan pada saluran pencernaan usus besar yang menyebabkan seseorang tidak dapat mengeluarkan tinja atau feses. Dalam istilah medis disebut juga dengan hirschsprung disease. Penyakit ini merupakan penyakit bawaan sejak lahir yang cukup langka terjadi. Diperkirakan 1 dari 5000 anak yang baru lahir mengalami megakolon kongenital, dengan frekuensi lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Biasanya, kasus ini berisiko tinggi terjadi pada bayi dengan riwayat penyakit yang sama atau memiliki penyakit Down Syndrome.

Apa penyebab megakolon kongenital?

Diduga, penyakit megakolon kongenital yang terjadi pada anak ini disebabkan oleh kelainan pada sel-sel dinding saluran pencernaan bagian bawah, yaitu kolon (usus besar) dan rektum. Gangguan ini mengakibatkan saraf parasimpatis yang menggerakkan otot-otot pada saluran tersebut menjadi tidak aktif (aganglion). Akibatnya, gerak peristaltik usus jadi hilang.

Jika gerak peristaltik usus tidak ada, maka pembentukan dan pergerakan feses di usus hingga ke rektum jadi terlambat. Lama-kelamaan, terjadi pelebaran atau distensi kolon yang dapat menyebabkan kerusakan usus akut maupun kronis. Hal ini bergantung juga dengan seberapa panjang usus yang mengalami aganglion. Oleh sebab itu, jika seorang bayi yang baru lahir mengalami megakolon kongenital, maka feses akan menumpuk di usus besar dan bayi tidak bisa BAB.

Bagaimana cara mengetahui jika seorang anak mengalami megakolon kongenital?

Umumnya, 90% bayi yang lahir dengan normal akan mengeluarkan mekonium, yaitu tinja pertama setelah lahir dalam waktu 24 jam pertama. Sebaliknya, lebih dari 90% bayi yang mengalami megakolon kongenital akan mengeluarkan fesesnya dalam waktu lebih dari 24 jam. Biasanya, disertai dengan gejala di bawah ini.

  1. Muntah hijau.
  2. Distensi abdomen, yaitu kondisi dimana perut membesar akibat usus yang mengalami pelebaran karena penumpukan feses.
  3. Enterokolitis, yaitu peradangan pada usus.

Jika kasus ini terjadi pada anak atau pasien yang sudah dewasa, maka gejala yang dirasakan seperti :

  1. Susah makan.
  2. Distensi abdomen kronis.
  3. Konstipasi.
  4. Fecal impaction, yaitu kondisi tinja yang mengeras di rektum atau usus bawah akibat sembelit.
  5. Malnutrisi.
  6. Gagal tumbuh kembang.

Kasus megakolon kongenital yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menyebabkan kematian sekitar 80% penderitanya. Penyebab kematian terbanyak adalah karena enterokolitis. Apabila kasus ditangani dengan penanganan yang cepat dan tepat, maka angka kematian dapat ditekan seminimal mungkin.

Pengobatan megakolon kongenital.

Jika seorang bayi atau anak didiagnosa megakolon kongenital, maka tindakan yang dilakukan pertama kali adalah operasi atau pembedahan. Pada sebagian besar kasus, operasi dilakukan saat bayi berusia satu bulan. Umumnya, pembedahan dilakukan dengan cara rectal washing dan kolostomi. Menurut Madjawati (2009), pembedahan dilakukan dengan 2 teknik, yaitu :

  1. Mengangkat bagian usus yang mengalami aganglion dan membuat kolostomi pada bagian usus distal yang masih normal. Kolostomi adalah lubang yang dibuat sebagai jalur keluarnya feses sementara hingga kondisi usus distal tersebut membaik.
  2. Setelah beberapa minggu atau bulan kemudian, lubang atau kolostomi ditutup. Bagian usus distal yang normal disambung lagi dengan usus bagian proksimal. Dengan ini, feses diharapkan bisa keluar melalui anus.  

Apakah ada komplikasi pasca operasi dilakukan?

Hasil penelitian Orvar Swenson di Boston, dari 82 pasien megakolon kongenital yang dioperasi, hanya 4 diantaranya yang mengalami gangguan kemih dan 2 orang mengalami infeksi ringan pasca operasi. Beberapa anak yang berusia kurang dari 3 tahun mengalami diare. Hal ini bisa diatasi dengan pemberian larutan garam setiap hari selama 4-5 hari untuk mengatasi diare. Selain itu, gejala muntah dan distensi perut mereda, serta bayi bisa bergerak secara normal. Komplikasi-komplikasi tersebut belum tentu akan terjadi juga pada penderita dewasa.

Catatan

Jika Anda memiliki tanda atau gejala seperti kasus di atas, maka segera lakukan pemeriksaan langsung ke dokter. Diskusi dan konsultasikan dengan dokter cara terbaik dan efektif untuk menanganinya. Selalu lindungi kesehatan Anda dan keluarga, ya!

Read More
Penyakit

Ciri-ciri dan Cara Mengobati Dwarfisme

Merupakan kelainan fisik yang membuat seseorang khususnya pada anak-anak yang memiliki tubuh sangat pendek atau kerdil, dinamakan dengan dwarfisme. Banyak orang salah mengartikan kondisi kelainan ini dengan stunting, namun perlu diluruskan bahwa kedua kondisi ini sangat jelas tidak sama alias benar-benar berbeda.

Stunting merupakan kondisi di mana tinggi badan anak yang pendek karena masalah kekurangan gizi, sebaliknya kelainan fisik karena genetik atau kondisi medis tertentu membuat seseorang menjadi memiliki tubuh pendek atau kerdil. Seseorang dikatakan mengalami kondisi ini jika memiliki tinggi badan antara 120 hingga 140 cm ketika sudah berusia dewasa.

Dwarfisme Pada Anak

Kondisi ini dibagi menjadi dua jenis, pertama tidak proporsional dan yang kedua proporsional, kedua jenis kondisi tersebut yang dialami anak tentu memiliki beberapa perbedaan. Jenis tidak proporsional yakni terdapat beberapa bagian tubuh seseorang yang kecil, sementara yang lain berukuran rata-rata hingga di atas rata dan menyebabkan perkembangan tulang terhambat.

Sementara untuk jenis yang proporsional adalah ketika semua bagian tubuh kecil untuk tingkat yang sama dan tampak proporsional seperti perawakan tubuh rata-rata. Apabila kondisi ini muncul ketika masih anak-anak, maka kondisi ini akan membatasi tumbuh kembang anak secara keseluruhan dan tentunya ini merupakan kondisi yang tidak bagus.

Ciri-ciri Dwarfisme

Pada awalnya dokter akan mencurigai anchodroplasia sebelum kelahiran, tepat sejak USG prenatal di akhir kehamilan. Hasil USG nantinya akan menunjukkan bahwa lengan dan kaki bayi lebih pendek dari ukuran rata-rata, sementara ukuran kepala menjadi lebih besar. Sayangnya, tidak semua ibu melakukan USG prenatal di akhir kehamilan.

Dampak negatif yang muncul adalah banyak anak dengan achondroplasia tidak terdiagnosis hingga setelah kelahiran. Namun, dokter juga bisa melakukan diagnosis beberapa jenis kondisi kerdil di awal kehamilan, walaupun tidak semuanya. Hal ini dikarenakan terdapat diagnosa setelah beberapa bulan atau di tahun pertama setelah mengetahui pertumbuhan anak terlambat, berikut ciri-cirinya.

  • Bentuk kaki bengkok.
  • Tulang hidung tidak rata.
  • Rahang bayi terlihat menonjol.
  • Tulang belakang bawah melengkung ke arah depan.
  • Kepala besar dengan dahi lebar sebagai tanda achondroplasia.

Jika usia bayi sudah cukup besar, maka akan mengalami keterlambatan kemampuan motorik dan imunitas yang mudah menurun. Untuk mengetahui kondisi ini pada bayi harus membutuhkan kepekaan, jika bayi memiliki kecenderungan kondisi jenis proporsional maka akan lebih mudah dideteksi karena terkait dengan masalah genetik.

Cara Pengobatan

Pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengurangi hal-hal buruk pada tubuh serta berbagai komplikasi kondisi ini terdapat beberapa alternatif. Pada umumnya, pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengatasi permasalahan yang muncul, berikut di antaranya beberapa pengobatan tersebut.

  • Terapi Hormon

Terapi hormon bisa dilakukan dengan memberikan suntikan hormon sintetis, hal ini dilakukan setiap hari pada anak-anak yang memiliki kekurangan hormon pertumbuhan agar semakin tercukupi. Bahkan bisa membantu anak mencapai tinggi badan maksimal, selain hormon sintetis diberikan pula suntikan estrogen.

  • Operasi

Tindakan medis ini dilakukan sebagai salah satu cara pertumbuhan tulang yang optimal, melalui operasi ini pemilik dwarfisme dapat memperbaiki bentuk tulang belakang dan mengurangi tekanan saraf yang terjadi. Tindakan ini setidaknya bisa memaksimalkan fungsi tubuh serta kemampuan selama melakukan aktivitas.

Operasi juga dilakukan agar tidak memicu munculnya berbagai komplikasi yang dialami pasien, seperti terjadinya peradangan sendi, saraf tulang belakang terjepit, gigi tumbuh secara bertumpuk, mengalami gangguan pernapasan saat tidur hingga gangguan nyeri yang sewaktu-waktu bisa terjadi dan kambuh secara tak terduga.

Read More
Penyakit

Ciri-ciri Bayi Mengalami Mata Buta

Bayi yang mengalami gangguan penglihatan bisa mengalami dampak buruk yang berpengaruh pada perkembangan anak secara keseluruhan. Maka dari itu, hal ini sangat penting diketahui oleh para orang tua guna mendeteksi sedini mungkin untuk bisa mencegah bayi mengalami mata buta di kemudian hari atau selama masa perkembangan anak.

Berbagai macam jenis cacat lahir pada bayi dan penyebabnya berbeda-beda, termasuk pada salah satunya gangguan penglihatan. Padahal kemampuan melihat dengan baik dan jelas yang dirasakan bayi memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung proses tumbuh kembang anak, untuk itu memahami beberapa ciri-ciri dari gangguan penglihatan pada bayi diperlukan.

Ciri-ciri Bayi Buta

Kemampuan bayi untuk melihat bergantung pada kerja sama antara indra penglihatan mata dan otak, mata terdiri dari berbagai bagian yang berbeda seperti kornea, lensa, iris hingga retina. Semua bagian mata ini saling bekerja sama agar gambar, cahaya atau objek bisa ditangkap atau dilihat dengan jelas dan fokus oleh mata.

Saraf yang terdapat pada mata memiliki tugas untuk mengirim objek, gambar hingga cahaya yang dilihat menuju ke otak. Dalam momen ini otak bekerja dengan melakukan proses dan mengenali apa yang ditangkap oleh mata. Proses ini terbilang sulit, tetapi kerja sama yang terjalin dan membuat seseorang bisa melihat terjadi secara singkat.

Apabila bayi memiliki gangguan pada penglihatan, secara otomatis kemampuan ini tidak bisa berkembang dengan baik. Pada umumnya, para orang tua bisa memerhatikan bayi mereka mengalami masalah penglihatan berdasar ciri-ciri yang muncul, berikut ini beberapa ciri-ciri bayi mengalami gangguan penglihatan.

  • Kondisi sensitivitas yang tinggi terhadap cahaya.
  • Fokus mata yang buruk disertai sering menggosok mata.
  • Mata memerah, pupil mata terlihat berwarna putih bukan hitam.
  • Mengalami kesulitan dalam melihat atau mengamati objek.
  • Pergerakan mata terlihat tidak normal, kondisi ini diketahui setelah bayi berusia enam bulan.
  • Ketika bayi sudah berusia lebih dari satu tahun, cahaya maupun gangguan lain tidak menarik perhatian.
  • Bayi mengalami kondisi di mana kedua mata tidak pernah membuka.

Selain beberapa ciri di atas, kondisi gangguan penglihatan mata bayi bisa dilihat dengan kedua bola mata bayi atau balita dan anak-anak prasekolah terlihat tidak sejajar. Kondisi ini bahkan menjadi ciri-ciri yang kerap diabaikan, padahal ketika bayi berada dalam keadaan ini sangat dianjurkan segera memeriksakan ke dokter guna mengetahui kemungkinan buruk.

Namun, jika masalah penglihatan yang dialami bayi maupun anak-anak berada dalam kondisi mata malas atau disebut dengan amblyopia, secara umum atau biasanya keadaan ini tidak menunjukkan ciri-ciri buta mata. Para orang tua disarankan untuk segera memeriksakan kondisi bayi dengan gangguan penglihatan ini ke dokter spesialis mata atau ophtalmologist.

Tujuan pemeriksaan ini selain mendeteksi masalah pada perkembangan penglihatan bayi sedini mungkin, tetapi juga untuk memeriksa gangguan penglihatan bayi dan anak-anak agar mendapatkan penanganan yang tepat. Pada kebanyakan kasus, dokter akan melakukan pemeriksaan mengenai masalah penglihatan sejak bayi baru lahir.

Hal tersebut dilakukan agar dokter mendapatkan kondisi yang memperlihatkan ciri-ciri bayi mengalami gangguan penglihatan. Setelah enam bulan pasca pemeriksaan pertama, dokter juga akan melihat struktur mata bayi dan memberikan penilaian terkait bayi bisa memerhatikan pergerakan benda berwarna terang di hadapannya.

Peran orang tua sangat vital untuk mengatasi gangguan atau masalah penglihatan yang dialami bayi atau anak mereka. Semakin cepat mengetahui kondisi tersebut, maka akan semakin baik pula penanganan yang akan dilakukan oleh para dokter.

Read More
Penyakit

Penjelasan Foto Terapi untuk Bayi Kuning

Terapi cahaya atau fototerapi juga bisa menjadi penanganan untuk bayi kuning

Terapi sinar atau biasa disebut dengan foto terapi merupakan salah satu penanganan paling umum digunakan saat bayi yang lahir berwarna kuning karena kadar bilirubin yang tinggi di dalam tubuh si bayi. Perawatan ini memanfaatkan sinar ultraviolet buatan untuk mengurangi kadar bilirubin bayi.

Bayi kuning atau dalam bahasa medis dikenal dengan jaundice adalah keadaan di mana bayi lahir terlihat kuning pada kulit dan bagian putih mata (sklera). Biasanya, kuning pada bayi dapat muncul sekitar hari ketiga setelah kelahiran dan menghilang pada saat bayi berusia dua minggu. Bayi lahir prematur umumnya lebih rentan mengalami kondisi ini. Perawatan paling efektif dan umum digunakan untuk menangani bayi kuning adalah fototerapi dan transfusi darah.

Penyebab bayi kuning

Bayi kuning kebanyakan disebabkan karena organ bayi belum bisa menyingkirkan kelebihan bilirubin dengan baik. Bilirubin adalah pigmen kuning yang ada dalam darah dan tinja pada setiap orang.

Bayi kuning tidak bisa dianggap sepele, karena jika tidak segera diobati, kemungkinan bisa mengancam jiwa bayi kamu. Beberapa hal yang menjadi penyebab bayi kuning, yakni adanya masalah pada fungsi hati bayi, bayi yang diberi ASI maupun yang tidak mendapat cukup ASI, gangguan sel darah, adanya ketidakcocokkan jenis darah antara ibu dan bayi, serta adanya infeksi.

Perubahan warna kulit bisa menjadi lebih sulit dikenali jika bayi kamu memiliki warna kulit yang lebih gelap. Namun, warna kuning akan lebih jelas pada beberapa bagian pada tubuh bayi, misalnya di bagian putih mata, di dalam mulut, juga di telapak tangan dan telapak kaki bayi kamu.

Tanda-tanda lainnya meliputi, bayi yang kerap mengantuk, sering menangis, lemas, urine berwarna kuning gelap padahal seharusnya bening hingga kuning muda, dan tinja yang berwarna pucat (seharusnya berwarna kekuningan).

Prosedur foto terapi untuk bayi kuning

Umumnya, bayi yang kuning atau jaundice memerlukan perawatan fototerapi menggunakan bantuan sinar ultraviolet. Fototerapi ini tergolong perawatan yang aman dan tidak merusak kulit bayi.

Adapun dua jenis fototerapi, di antaranya:

  • Fototerapi konvensional

Yakni perawatan fototerapi di mana bayi kamu diletakkan di bawah lampu halogen atau lampu neon ultraviolet, agar sinar dapat diserap tubuh melalui kulit. Mata bayi ditutup untuk melindungi lapisan saraf mata dari paparan sinar ultraviolet.

  • Fototerapi serat optik

Yakni perawatan fototerapi di mana terdapat kabel serat optik pada selimut yang digunakan bayi untuk berbaring. Paparan sinar disalurkan melalui kabel tersebut ke bagian punggung bayi. Perawatan ini umumnya lebih sering digunakan jika bayi kamu lahir secara prematur.

Kedua jenis fototerapi tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni membuat kulit bayi mendapat paparan sinar sebanyak mungkin. Kedua jenis fototerapi ini biasanya akan dihentikan selama 30 menit setiap 3-4 jam sekali, sehingga kamu bisa menyusui bayi, mengganti popoknya, atau sekadar memeluknya.

Sebelum melakukan fototerapi, ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan. Di antaranya:

  • Seluruh pakaian bayi perlu ditanggalkan, agar kulit bayi terkena sinar ultraviolet buatan sebanyak mungkin.
  • Mata bayi harus tertutup guna melindungi lapisan saraf mata (retina) dari paparan sinar.
  • Kadar bilirubin diperiksa paling sedikit sekali dalam sehari. Setidaknya setiap 4-6 jam setelah proses fototerapi dimulai. Begitu kadar bilirubin sudah menurun, maka bayi kamu akan diperiksa setiap 6-12 jam sekali.
  • Bayi kamu tetap diberikan ASI atau susu selama terapi ini berlangsung.
  • Selama perawatan, suhu bayi kamu akan dipantau untuk memastikan tidak terlalu panas dan akan diperiksa tanda-tanda dehidrasi. Jika mengalami dehidrasi, maka Si Kecil mungkin akan memerlukan cairan intravena (infus).

Penanganan menggunakan fototerapi akan dihentikan setelah kadar bilirubin turun ke tingkat yang aman, dan biasanya fototerapi ini memakan waktu 1-2 hari. Kendati fototerapi sangat dianjurkan untuk mengobati bayi kuning, namun pada keadaan tertentu, fototerapi ini mungkin menimbulkan efek samping pada bayi kamu. Efek samping tersebut meliputi dehidrasi, diare, dan timbulnya ruam kulit yang akan hilang begitu terapi atau perawatan dihentikan.

Fototerapi tidak harus dilakukan di rumah sakit, karena kamu bisa melakukannya di rumah. Namun, kamu harus memahami secara benar bagaimana menggunakan semua peralatan terkait perawatan tersebut sesuai dengan anjuran dokter.

Read More